Negara-negara Teluk Persia telah meningkatkan upaya diplomasi untuk membantu meredakan ketegangan, memperkuat optimisme bahwa kesepakatan jangka pendek mengenai selat yang menjadi pusat ketegangan antara Teheran dan Washington dapat tercapai.
Perdana Menteri Qatar bertemu dengan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, untuk membahas cara menciptakan “kondisi yang tepat” bagi dimulainya kembali pembicaraan dengan AS, menurut sebuah pernyataan.
Namun, Teheran berulang kali mengatakan bahwa kesepakatan mengenai navigasi tidak akan berarti bahwa jalur strategis tersebut akan segera dibuka kembali untuk sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sementara itu, AS telah mengisyaratkan bahwa mereka tidak tertarik pada kesepakatan yang ditetapkan berdasarkan persyaratan Teheran, dan memilih untuk menekan perekonomian Republik Islam tersebut melalui sanksi serta blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan pada Kamis sebelumnya bahwa AS tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan bahwa blokade akan tetap berlaku.
“Sudah ada banyak upaya gencatan senjata yang gagal sebelumnya, sehingga pasar enggan bergerak terlalu dini,” kata Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee.
Harga minyak telah naik lebih dari 45% sepanjang tahun ini setelah konflik selama enam bulan yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari menghambat pengiriman minyak dari Teluk Persia.
Namun, pembicaraan antara Iran dan Oman, bersama dengan langkah-langkah ekonomi AS yang ternyata tidak sekeras perkiraan sebelumnya, telah membantu meredakan harga minyak pekan ini.
Sementara itu, sejumlah minyak mentah tampaknya mulai mengalir dari Teluk Persia.
Sekitar 6 juta hingga 8 juta barel per hari kini dikirim melalui jalur perairan tersebut, menurut perkiraan para trader yang terlibat dalam dan memantau aktivitas pengiriman kargo. Peningkatan tersebut membantu menjaga harga minyak mentah global tetap terkendali.
Citra satelit menunjukkan bahwa Arab Saudi tampaknya meningkatkan aktivitas pemuatan minyak di dalam Teluk Persia.
Hal ini menjadi tanda bahwa eksportir minyak mentah terbesar dunia tersebut mengalihkan rute pengirimannya di tengah ancaman dari militan Houthi Yaman terhadap ekspor minyaknya melalui Laut Merah.
Meski demikian, risiko masih ada. Sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya di Selat Hormuz pekan ini, menurut UK Maritime Trade Operations. Insiden tersebut sedang diselidiki oleh otoritas setempat, katanya.
(bbn)






























