Riyadh dengan cepat mengalihkan pasokannya ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, bulan lalu kelompok Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran kerajaan tersebut, yang memicu penataan ulang logistik baru.
Peningkatan aktivitas ini terjadi seiring dengan tanda-tanda pemulihan pengiriman di Irak dan negara-negara produsen lainnya.
Lalu lintas masuk melalui Selat Hormuz meningkat pesat selama akhir pekan dan mencakup beberapa kapal tanker raksasa (supertanker) kosong yang menuju ke sana untuk memuat kargo, menurut data pelacakan kapal dan data dari Kpler dan Vortexa yang dikompilasi oleh Bloomberg.
Belum jelas apakah peningkatan pemuatan di Teluk Persia ini hanya bersifat sementara, atau ditujukan untuk mengimbangi volume yang sebelumnya dikirimkan dari Yanbu. Meski telah menerapkan langkah-langkah alternatif, total ekspor Arab Saudi masih di bawah tingkat sebelum perang.
Saudi Aramco, perusahaan minyak milik negara, menolak memberikan komentar, dan Kementerian Energi negara tersebut tidak menanggapi permintaan untuk memberikan komentar.
Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg dari citra satelit dan sinyal digital kapal menunjukkan bahwa arus pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan Kerajaan di Teluk Persia dan Laut Merah selama 23 hari pertama Agustus rata-rata mencapai 3,23 juta barel per hari.
Angka tersebut turun dibandingkan dengan rekor terendah sebelumnya sebesar 3,65 juta barel per hari untuk Mei dan akan menjadi tingkat bulanan terendah sejak perang Iran dimulai.
Ada kemungkinan bahwa citra tersebut tidak menangkap gambaran lengkap mengenai arus ekspor. Satelit mengambil citra instalasi ekspor negara tersebut kira-kira sekali setiap tiga hari, sehingga proses pemuatan bisa saja terjadi saat tidak ada citra yang terekam.
Rata-rata, hanya tiga dari tujuh dermaga minyak mentah di dua terminal Yanbu yang terlihat terisi dalam citra satelit yang mencakup periode 10 hari sejak 22 Juli. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata lima dermaga yang terisi dalam citra yang diambil antara 28 Mei dan 17 Juli.
Ukuran kapal yang digunakan juga semakin kecil, yang berarti volume minyak yang dimuat pun berkurang. Pada periode sebelumnya, hampir semua kapal merupakan Very Large Crude Carrier (VLCC) yang masing-masing mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah.
Belakangan ini, terdapat lebih banyak kapal berukuran lebih kecil, yakni kelas Aframax, yang kapasitas angkutnya hanya sekitar sepertiga dari VLCC.
Meski ekspor secara keseluruhan dari pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi telah menurun, kerajaan tersebut juga meningkatkan aliran ekspor dari fasilitas penyimpanan di Mesir.
Ekspor dari Sidi Kerir, pelabuhan di pesisir Laut Mediterania Mesir, rata-rata mencapai 2,1 juta barel per hari pada Agustus. Angka ini jauh melampaui rata-rata 700.000 barel per hari yang tercatat selama enam bulan pertama tahun 2026.
CATATAN: Bloomberg menggunakan kombinasi transmisi AIS, citra satelit dari satelit Sentinel Uni Eropa, sumber-sumber pelayaran dan perdagangan, serta data dari Kpler dan Vortexa untuk menyusun daftar pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan Saudi.
(bbn)
































