Logo Bloomberg Technoz

Kedua, sejalan dengan misi yang pertama yakni berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Destry menilai stabilitas yang kuat dapat memberikan kepastian berusaha dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi. Karena itu, stabilitas dan pertumbuhan harus berjalan secara seimbang dan berkesinambungan.

Sementara misi ketiga adalah memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui Sinergi Merah Putih. 

"Misi ini menegaskan bahwa Bank Indonesia akan melakukan koordinasi erat dengan pemerintah, otoritas, dan berbagai pihak dalam respons tantangan yang masih kuat dan mencapai tujuan Indonesia 2045. Tentunya juga sinergi yang perlu juga kami lakukan adalah bersama-sama dengan wakil rakyat yaitu DPR dan juga tentunya dengan perwakilan daerah," ujar Destry.

Sementara itu, lima inisiatif strategis yang disiapkan Destry meliputi; 

Pertama, dari sisi moneter, BI akan tetap fokus menjaga stabilitas dengan memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan BI-Rate akan diarahkan secara pre-emptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Operasi moneter pro-market akan dioptimalkan agar transmisi kebijakan semakin efektif dan likuiditas tetap memadai bagi pasar uang, perbankan, dan sektor riil," kata Destry.

Untuk kebijakan makroprudensial akan diarahkan semakin pro-growth dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Berbagai instrumen makroprudensial akan dioptimalkan untuk mendorong pembiayaan, khususnya kepada sektor-sektor prioritas.

Sementara itu, pada sisi sistem pembayaran, BI akan mengakselerasi ekonomi dan keuangan digital secara aman, efisien, dan inklusif. Digitalisasi melalui transaksi QRIS juga akan terus diperluas.

Destry mencatat transaksi QRIS telah tumbuh 82,4%, dengan jumlah pengguna mencapai 67,5 juta dan merchant sebanyak 45,5 juta. Sebanyak 96,7% merchant tersebut merupakan UMKM.

Inisiatif strategis kedua adalah revitalisasi kebijakan lalu lintas devisa (LLD). Destry mengatakan kebijakan tersebut akan menjadi perhatian serius BI sesuai dengan mandat yang diberikan melalui undang-undang.

Menghadapi berbagai tantangan sektor eksternal dan infrastruktur LLD, BI akan melakukan refocusing dan revitalisasi kebijakan, khususnya dalam pengawasan berbasis digital dan supervisory technology (suptech).

"Hal ini amat penting mengingat potensi under-invoicing yang cukup besar namun kami tidak bisa sendirian karena data terkait LLD melibatkan banyak pihak," ujarnya. 

Sementara untuk inisiatif ketiga berkaitan dengan keuangan inklusif dan berkelanjutan. Destry menilai pertumbuhan ekonomi berkualitas harus dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Oleh karenanya, ia menyebut inklusi keuangan dan ekonomi syariah menjadi salah satu game changer bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

Inisiatif keempat terkait dengan tata kelola kelembagaan inovasi. Mandat yang semakin besar, kata dia harus diimbangi dengan kelembagaan yang semakin kuat. Dengan demikian, kredibilitas Bank Indonesia menurutnya bukan sesuatu yang dapat dibangun secara instan tapi merupakan hasil akumulasi dari integritas, konsistensi, inovasi, dan sinergi jangka panjang.

Terakhir yaitu inisiatif Sinergi Merah Putih. "Inisiatif terakhir merupakan benang merah yang menghubungkan seluruh kebijakan yang telah kami sampaikan dalam implementasinya." 

"Kami meyakini bahwa keberhasilan Bank Indonesia tidak ditentukan oleh kemampuan bekerja sendiri, melainkan oleh kemampuan membangun Sinergi Merah Putih bersama seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya. 

Kolaborasi tersebut akan diterjemahkan melalui berbagai program yang selaras dengan Asta Cita, mulai dari penguatan ketahanan pangan, hilirisasi dan industrialisasi, pengembangan sumber daya manusia, pembangunan daerah, digitalisasi ekonomi, hingga reformasi kelembagaan.

(prc/ell)

No more pages