Logo Bloomberg Technoz

Nezar juga menyoroti keterbatasan AI dalam memahami filsafat. Menurut dia, AI memang mampu menjelaskan maupun mengutip pemikiran filsafat, tetapi belum mampu benar-benar berfilsafat dengan membangun pemikiran yang holistik dan radikal.

“Kemampuan reflektif seperti yang dimiliki lulusan filsafat tetap memegang peranan penting,” kata Nezar.

Di sisi lain, diskusi tersebut juga menyoroti bahwa kemampuan berpikir kritis saja belum cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja akibat AI.

Alumnus Fakultas Filsafat UGM yang bekerja di bidang analisis dan monitoring data, Nicko Mardiansyah mengatakan kemampuan teoritis dan berpikir kritis perlu dilengkapi dengan literasi data dan AI, riset digital dan statistik, komunikasi strategis, serta penguasaan bidang tertentu.

Nicko juga mengingatkan bahwa data tidak selalu identik dengan kebenaran. Data dapat mengandung bias atau tidak representatif sehingga penggunaannya membutuhkan konteks dan pemahaman yang memadai.

(ain)

No more pages