"Karena lebih efisien dan meningkatkan daya saing dari sisi biaya produksi, perlu dicoba, tetapi harus ada trial atau pilot. UMKM yang bisnisnya mesti menggunakan tabung gas untuk masak, di sektor bisnis yang sama ya, harus FnB juga," tegasnya.
Selain faktor efisiensi biaya, aspek lingkungan dan keberlanjutan menjadi dorongan utama bagi pelaku usaha FnB untuk mengadopsi CNG.
Pembakaran CNG menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) yang jauh lebih rendah serta minim jelaga bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil tradisional.
Hal ini tidak hanya mendukung konsep green restaurant dan menaikkan citra bisnis di mata konsumen yang peduli lingkungan, tetapi juga menjaga kebersihan area dapur karena kompor dan peralatan memasak tidak mudah kotor oleh residu pembakaran.
Meskipun menawarkan berbagai keunggulan, penerapan CNG pada sektor FnB membutuhkan kesiapan infrastruktur dan investasi awal yang matang.
“Pemeliharaan sistem secara berkala dan pelatihan keselamatan bagi para staf dapur juga menjadi krusial agar operasional penggunaan CNG tetap berjalan optimal, aman, dan efisien dalam jangka panjang,” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal bakal membuka pengadaan tabung CNG ukuran 3 kg, dengan jumlah tabung dapat mencapai 30.000 unit.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan pengadaan tersebut bakal dilakukan oleh badan usaha (BU) yang ditunjuk untuk memproduksi tabung.
Dia menjelaskan bahwa pengadaan tabung CNG 3 kg tersebut bakal dilakukan usai uji coba penggunaan tahap III atau pengujian di masyarakat rampung.
“Nah, setelah itu badan usaha yang nanti akan ditunjuk produksi tabungnya, itu nanti akan ditugaskan mengadakan dalam jumlah skala yang seperti sudah diumumkan, lebih dari 10.000, 20.000, 30.000 [unit],” kata Laode kepada awak media usai IICGE 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2026).
Lebih lanjut, Laode mengungkapkan uji coba CNG 3 kg bakal dilakukan di kantin Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), sebelum dilakukan uji coba di masyarakat.
Dia menjelaskan uji coba tahap III tersebut bakal dimulai di pedagang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berada di kantin Lemigas.
“Nah, di dalam tahap tiga ini, kita melakukan beberapa uji dulu. Kita memanfaatkan UMKM nanti yang ada di dalam lingkungan Lemigas. Di sana ada kantin. Kita mau coba manfaatkan dulu di situ. Sambil kita evaluasi,” ujar Laode.
Laode juga menyatakan Kementerian ESDM sedang menyiapkan skema distribusi CNG 3 Kg guna memastikan penyaluran dari hulu hingga hilir berjalan secara optimal.
“Kita sedang melakukan finalisasi skemanya. Jadi skemanya itu nanti seperti apa sih biar dari sisi hulunya siap, hilirnya juga siap, masyarakat yang menerima juga merasa senang ketika nanti juga memanfaatkan itu,” tegasnya.
Terpisah, Laode juga mengungkapkan Indonesia sedang mempertimbangkan rencana impor tabung gas CNG berukuran 3 kg sekitar 100.000 unit dari China.
Laode menyatakan proses pengujian tabung CNG 3 kg sedang dilakukan dan untuk memesan tabung dengan ukuran tersebut dibutuhkan minimal pembelian sekitar 100.000 tabung.
Dia memastikan impor tersebut bakal dilakukan oleh badan usaha. Namun, dia tak menjelaskan apakah BUMN atau pihak swasta yang bakal mengimpor tabung tersebut.
Adapun, Kementerian ESDM menegaskan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.
Kementerian ESDM memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.
Di sisi lain, CNG Merah Putih disebut bakal menggunakan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit serta fiberglass.
(smr/naw)






























