Logo Bloomberg Technoz

Lonjakan pembangunan pusat data telah membebani sistem kelistrikan AS, memicu kekhawatiran akan keandalan pasokan dan moratorium terhadap persetujuan proyek baru.

Mengingat fasilitas yang telah mengantongi izin pun masih menghadapi penundaan bertahun-tahun untuk dapat terhubung dengan jaringan listrik yang diatur secara ketat, para pengembang pusat data mulai mencari alternatif lain.

Alternatif ini mencakup proyek-proyek yang disebut “behind-the-meter” (proyek pembangkit listrik di lokasi pengguna yang tidak terhubung langsung ke jaringan distribusi utama), yang dapat diizinkan dan dibangun tanpa persetujuan dari perusahaan utilitas atau operator sistem independen yang bertugas memastikan keandalan jaringan listrik.

“Ada tekanan yang sangat pada seluruh sektor ini untuk mendapatkan pasokan listrik, dan mendapatkannya dengan cepat,” kata David Pomerantz, Direktur Eksekutif Energy and Policy Institute, lembaga pengawas utilitas yang mendorong penggunaan energi terbarukan. “Mereka cenderung tidak mempedulikan apakah sumbernya bersih atau kotor.” 

Tidak semua usulan pembangkit listrik yang tercatat dalam data BNEF kemungkinan akan benar-benar dibangun. Terburu-buru memanfaatkan permintaan daya komputasi yang seolah tak terbatas dari para pengembang kecerdasan buatan (AI) telah memunculkan sejumlah proyek fiktif maupun proposal yang yang tidak realistis.

Estimasi Bloomberg mengenai potensi emisi ini didasarkan pada total kapasitas pembangkit listrik gas di lokasi pusat data (on-site) sebesar 126 gigawatt yang dipantau oleh BloombergNEF, perusahaan riset energi milik Bloomberg LP.

Jejak karbon dihitung menggunakan rentang tingkat penggunaan—mulai dari rata-rata industri sebesar 60% hingga 100% untuk operasi sepanjang waktu—serta laju pembakaran gas dari pembangkit gas siklus tunggal (single-cycle).

Besaran emisi akan bervariasi tergantung pada pola penggunaan dan efisiensi bahan bakar pembangkit tersebut. Model siklus tunggal kini menjadi salah satu jenis yang paling umum direncanakan, meski lebih berpolusi dibandingkan pembangkit listrik siklus gabungan—jenis yang sebenarnya diinginkan oleh pengembang pusat data tetapi sulit diperoleh karena antrean pesanan turbin telah berlangsung bertahun-tahun. 

Data BNEF mencakup proyek-proyek yang didukung oleh laboratorium AI terkemuka, seperti OpenAI dan Anthropic PBC, operator pusat data pendatang baru yang mengklaim diri sebagai spesialis AI, serta raksasa komputasi awan dan kelompok investor yang mencari penyewa. 

Proyek-proyek yang dipantau oleh BloombergNEF tersebar di 22 negara bagian, dari Alaska hingga Georgia. Lebih dari sepertiga di antaranya berlokasi di Texas, di mana sumber daya minyak dan gas yang melimpah serta lingkungan regulasi yang secara historis longgar membuat para pengembang berlomba-lomba mendirikan pusat data secepat mungkin, baik dari segi konstruksi maupun penyediaan pasokan listriknya. (Gubernur Texas Greg Abbott baru-baru ini mengumumkan penangguhan persetujuan pembangunan pusat data).

Proyek-proyek tersebut mencakup pembangkit listrik yang didukung oleh Amazon.com Inc dan Microsoft Corp, dua perusahaan terbesar dalam penyewaan daya komputasi dan penyimpanan data.

Awal bulan ini, Cleanview—perusahaan yang memantau infrastruktur kelistrikan dan pengembangan pusat data di AS—mengidentifikasi Amazon sebagai pengembang lahan seluas 8.000 acre (sekitar 3.237 hektare) di Pecos County; lokasi ini nantinya akan menjadi salah satu sumber polusi karbon tunggal terbesar di AS.

Sekitar 48 kilometer ke arah barat, melewati kebun kacang pecan dan lahan semak belukar yang dipenuhi menara pengeboran minyak, Chevron Corp sedang membangun pembangkit listrik tenaga gas untuk Microsoft guna memasok listrik ke kompleks pusat data baru di lahan seluas 2.000 acre.

Kedua pembangkit listrik tersebut saja berpotensi menghasilkan lebih dari 10 gigawatt listrik, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik Kota New York pada hari musim panas yang terik.

Berdasarkan dokumen regulasi, total emisi tahunan gabungan keduanya diperkirakan mencapai hingga 45 juta metrik ton setara karbon dioksida. Angka tersebut sedikit di bawah separuh total emisi kumulatif negara bagian Washington, tempat kedua perusahaan tersebut berkantor pusat.

Infrastruktur bahan bakar fosil tersebut mengancam akan membuat target iklim perusahaan-perusahaan teknologi besar (Big Tech) menjadi sulit tercapai. Baik Amazon maupun Microsoft merupakan pendukung utama proyek energi bersih, dan telah menyatakan komitmen untuk meniadakan kontribusi mereka terhadap emisi karbon yang menjadi penyebab pemanasan global.

Komitmen-komitmen tersebut dibuat sebelum lonjakan pesat kecerdasan buatan, pada masa ketika perusahaan teknologi berada di bawah tekanan dari karyawan dan aktivis eksternal untuk berbuat lebih banyak dalam mengurangi emisi mereka.

Juru bicara Amazon dan Microsoft menyatakan bahwa target iklim mereka tidak berubah. Amazon sedang menjajaki opsi tenaga surya dan penyimpanan baterai di lokasi barat Texas tersebut.

“Ini merupakan perubahan yang luar biasa dalam tiga tahun terakhir,” kata Drew Wilkinson, mantan karyawan Microsoft yang mengorganisasi rekan-rekannya untuk mengadvokasi langkah-langkah keberlanjutan yang lebih ketat. 

“Perusahaan-perusahaan yang menjadi pelopor aksi iklim korporasi kini sedang mengoperasikan infrastruktur fosil baru dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hanya sedikit dari kita yang memperkirakan hal ini akan terjadi.”

(bbn)

No more pages