Kondisi ketat ini sebagian besar dipicu oleh langkah para pedagang yang memindahkan ratusan ribu ton tembaga ke Amerika Serikat (AS) menjelang keputusan pemerintah Donald Trump mengenai tarif impor.
Selisih harga yang dikenal sebagai spread "Tom/next" ini mencerminkan biaya untuk mengalihkan posisi perdagangan ke hari berikutnya.
Lonjakan pada Selasa (18/8/2026) ini mengindikasikan adanya tekanan bagi pemegang posisi jual (short position) menjelang berakhirnya masa berlaku kontrak bulan Agustus di LME pada Rabu.
Pada Senin (17/8/2026), harga pasar tembaga di pasar spot sempat melonjak hingga US$545/ton lebih tinggi dibandingkan dengan harga kontrak berjangka tiga bulan.
Departemen Perdagangan AS di bawah Trump dijadwalkan memberikan rekomendasi mengenai tarif tembaga pada akhir Juni, tetapi hingga kini belum ada pengumuman resmi yang keluar dari Gedung Putih.
Sementara itu, arus pasokan tembaga ke pelabuhan-pelabuhan AS terus berlanjut karena terdorong oleh harga yang lebih tinggi di negara tersebut, sehingga menyebabkan menipisnya stok di gudang-gudang wilayah lain.
Harga tembaga telah naik lebih dari 13% tahun ini, didorong oleh optimisme akan meningkatnya permintaan dari pusat data dan sektor energi terbarukan.
Kenaikan ini mendongkrak pendapatan perusahaan tambang besar seperti Rio Tinto Group dan BHP Group; menurut laporan tahunan yang dirilis pada Selasa, tembaga menyumbang lebih dari separuh pendapatan BHP untuk pertama kalinya.
Meski demikian, terdapat sejumlah tanda bahwa kondisi pasokan yang ketat mungkin akan melonggar.
Pada Senin, jaringan gudang global LME mencatat peningkatan bersih pertama dalam inventaris tembaga sejak 17 Juni, yang terbantu oleh penambahan lebih dari 3.000 ton di gudang-gudang penyimpanan di Malaysia.
Harga kontrak tiga bulan di London turun tipis 0,4% menjadi US$14.101,50/ton pada pukul 10.34 pagi waktu Shanghai hari ini. Harga logam dasar lainnya di LME juga mengalami penurunan.
(bbn)





























