Logo Bloomberg Technoz

ENERGI FOSIL

PLTU Jamak di Industri Logam, Efek Lambatnya Pembangunan PLN?

Azura Yumna Ramadani Purnama
30 September 2026 12:10

Pembangkit listrik tenaga batu bara Takasago, yang dimiliki oleh Electric Power Development Co., atau J-Power./Bloomberg-Buddhika Weerasinghe
Pembangkit listrik tenaga batu bara Takasago, yang dimiliki oleh Electric Power Development Co., atau J-Power./Bloomberg-Buddhika Weerasinghe

Bloomberg Technoz, Jakarta – Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai masifnya pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia turut dipengaruhi terlambatnya PT PLN (Persero) membangun pembangkit atau jaringan listrik ke wilayah industri pengolahan logam.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menilai masifnya investasi China di sektor pengolahan logam membuat industri tersebut menyesuaikan karakteristik investor China, yakni melakukan investasi dengan cepat dan mendapatkan keuntungan secara cepat.

Untuk itu, Bhima menduga PLTU captive dipilih sebab pembangunanya termasuk yang cukup cepat dan pasokan energinya berasal dari batu bara yang mudah didapatkan.

Pasokan batu bara di dekat menara pendingin di pabrik utama Sasol Ltd. yang menggunakan proses gasifikasi untuk memproduksi bahan bakar./Bloomberg

Kendati begitu, Bhima juga menilai terdapat kesalahan dari PLN yang terlambat memasok listrik ke wilayah industri pengolahan logam.

Dia menyatakan terkadang jaringan listrik PLN tidak menjangkau kawasan industri atau tidak terdapat pembangkit listrik di sekitar wilayah industri.