"Kami memperkirakan kendala pasokan ini akan terus menopang pasar dalam waktu dekat, terutama jika permintaan tetap kuat."
Investor komoditas mulai melirik logam ini, yang sebagian besar digunakan dalam aplikasi kelistrikan seperti kabel.
Pihak yang optimistis terhadap harga tembaga (bulls) menyoroti tren jangka panjang berupa permintaan kuat yang didorong oleh transisi menuju elektrifikasi, pembangunan pusat data dan infrastruktur lain untuk kecerdasan buatan (AI), serta tantangan yang kian besar dalam menemukan dan mendanai tambang tembaga baru.
Namun, lonjakan harga saat ini terjadi di tengah spekulasi para pedagang bahwa Presiden Donald Trump akan mengenakan tarif pada tembaga olahan yang diimpor ke AS.
Gedung Putih belum memberikan kepastian mengenai rencananya. Belum ada pengumuman apa pun sejak tenggat bagi Departemen Perdagangan AS untuk memberikan rekomendasi berlalu tujuh pekan yang lalu.
Sementara itu, arus masuk tembaga ke AS terus berlanjut seiring pasar yang mulai memperhitungkan potensi tarif tersebut, sementara kondisi pasokan yang ketat di China juga menarik pasokan logam ke sana.
Hal tersebut menyebabkan inventaris di seluruh jaringan gudang global LME menyusut hampir setengahnya sejak pertengahan Mei.
Meskipun stok tersebut sempat naik melampaui 207.800 ton pada hari Senin, kenaikan itu terjadi setelah penurunan berturut-turut selama 42 hari. Total stok pada akhir pekan lalu berada di level terendah sejak Februari.
Aktivitas pasar yang intens pada hari Senin terjadi pada momen penting dalam kalender LME, tepat sebelum hari Rabu ketiga bulan tersebut, yang merupakan titik fokus likuiditas bagi kontrak-kontrak di bursa itu.
Menurut para pelaku pasar, pedagang dan pialang yang memiliki posisi short (bertaruh harga turun) untuk tanggal tersebut berusaha menutup posisi mereka dengan membeli kontrak tunai dan menjual kontrak untuk tanggal pengiriman lebih jauh, sehingga mendorong kenaikan spread.
Di sisi lain, pemilik logam enggan melepas stok mereka karena adanya peluang arbitrase yang menguntungkan akibat lonjakan harga di AS yang dipicu oleh spekulasi tarif.
Gudang LME merupakan sumber pasokan terakhir yang krusial bagi industri tembaga fisik, dan logam yang tersimpan di gudang-gudang tersebut juga dapat digunakan untuk menyelesaikan kontrak berjangka yang akan jatuh tempo.
Salah satu keunikan situasi saat ini adalah total inventaris global sebenarnya tidak terlalu rendah, tetapi terkonsentrasi di AS.
Selain spekulasi mengenai tarif, permintaan di China tidak dinilai terlalu kuat, tetapi smelter di sana menghadapi kendala pasokan bahan baku, sehingga meningkatkan kebutuhan akan impor.
Di tengah lonjakan spread antara kontrak tunai dan kontrak tiga bulan, perhatian kini tertuju pada kemungkinan munculnya pasokan tembaga tambahan dari China—hal yang kerap terjadi saat terjadi kelangkaan pasokan jangka pendek.
Harga acuan global untuk kontrak berjangka tembaga tiga bulan ditutup relatif stabil di angka US$14.157,50/ton di LME, setelah sebagian besar kenaikan harga sebelumnya kembali terpangkas.
Di antara logam lainnya yang diperdagangkan di LME, harga aluminium naik 0,4% dan seng naik 0,3%; kenaikan ini juga didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar AS, yang memberikan keuntungan bagi komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut.
(bbn)




























