"S&P menilai Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kokoh, kebijakan makroekonomi yang secara umum berhati-hati, serta beban utang yang relatif prudent dan sustainable dibandingkan negara-negara setara," sebut Prabowo.
Kendati demikian, ia tidak menyingung soal prospek negatif yang disematkan oleh Fitch Ratings dan Moody's Ratings terhadap pasar keuangan Indonesia.
Di sisi lain, pasar mencermati terobosan Indonesia yang akan meluncurkan Bursa Mineral dan Komoditas. Bursa ini ditujukan untuk menciptakan harga acuan Indonesia, bagi sejumlah komoditas ekspor utama, sekaligus membuat perdagangan komoditas jadi lebih transparan dan tidak mudah dimanipulasi.
Selain itu, Prabowo juga mengumumkan inisiatif untuk merevitalisasi sebanyak 441 rumah sakit umum daerah (RSUD) di seluruh Indonesia.
Di tengah persoalan kekurangan dokter yang sangat serius di dalam negeri, yang jumlahnya mencapai lebih dari 140.000 orang, Presiden juga memaparkan strategi untuk mempercepat pembukaan dan pendirian fakultas-fakultas kedokteran baru untuk meningkatkan kapasitas pendidikan dan pasokan tenaga medis nasional.
Di samping itu, Prabowo mengatakan pemerintah akan mendorong revisi aturan kewarganegaraan untuk memungkinkan pemberikan kewarganegaraan ganda secara terbatas kepada diaspora Indonesia yang memiliki keahlian tinggi.
Langkah ini bertujuan untuk menarik kembali talenta Indonesia yang memiliki kompetensi dan pengalaman internasional agar dapat berkontribusi bagi perekonomian nasional.
Katalis Positif
Sementara ini, pergerakan aset di pasar keuangan domestik menunjukkan bahwa investor membaca arah kebijakan pemerintah 2027 dengan lebih positif.
Penguatan rupiah baik di pasar spot maupun di pasar luar negeri, IHSG, dan sejumlah sektor yang terkait dengan agenda pemerintah jadi indikasi bahwa pasar sepertinya mulai mengukur keuntungan dari paket kebijakan yang disampaikan dalam pidato Presiden.
Misalnya, penguatan pasar saham yang tertopang oleh sektor kesehatan, properti dan energi menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai memetakan sektor-sektor yang berpotensi memperoleh manfaat langsung dari agenda pemerintah di tahun depan.
Sektor kesehatan mendapat katalis dari rencana revitalisasi 441 RUSD, percepatan pembukaan fakultas kedokteran, serta kebijakan untuk mendatangkan dokter asing secara temporer.
Sedangkan sektor properti mendapat sentimen positif dari meningkatnya belanja pembagunan dan aktivitas ekonomi, bila target pertumbuhan 6% benar-benar tercapai.
Adapun sektor energi mendapat eksposur langsung dari agenda ketahanan energi, hilirisasi, kendaraan listrik, serta adanya pengembangan komoditas strategis, dan rencana pendirian Bursa Mineral dan Komoditas.
(riset)



























