Selain itu, dia menambahkan, pasar akan ikut menguji kualitas belanja pemerintah.
“Tentunya market akan mencermati belanja produktif yang dapat menciptakan multiplier effect bagi sektor swasta dan emiten,” tuturnya.
Sektor yang berpotensi mendapat sentimen positif apabila belanja produktif diperkuat antara lain konstruksi, infrastruktur, semen, basic materials, transportasi, consumers, perbankan, serta sektor terkait hilirisasi dan energi.
Setali tiga uang, kepala ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, menilai bahwa tahun ini pasar tidak hanya menunggu angka-angka dalam RAPBN 2027, tetapi juga menunggu peta besar kebijakan ekonomi nasional.
“Yang ditunggu adalah bagaimana pemerintah menjelaskan hubungan antara kebijakan fiskal, kebijakan moneter, pembiayaan pembangunan, dan strategi eksternal Indonesia dalam satu kerangka yang utuh," kata Fakhrul.
Ia menambahkan bahwa pidato Presiden tahun ini menjadi salah satu momen komunikasi kebijakan yang paling ditunggu pasar sepanjang 2026.
"Nota Keuangan bukan hanya dokumen fiskal. Dalam kondisi seperti sekarang, Nota Keuangan juga berfungsi sebagai expectation guidance bagi pasar keuangan,” tuturnya.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menyebut bahwa IHSG masih bertahan di atas MA20. Namun, momentum penguatan mulai melemah seiring penyempitan histogram positif MACD yang berlanjut dan berpotensi mengalami death cross.
Kondisi tersebut membuat Phintraco memperkirakan pergerakan IHSG masih terbatas pada perdagangan hari ini.
"Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.230-6.370 pada perdagangan Jumat (14/8)," lanjut Phintraco.
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,13% di posisi 6.301 pada penutupan perdagangan Kamis (13/8/2026).
Indeks Komposit ditekan performa negatif saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan sejumlah saham barang baku lainnya.
Saham–saham barang baku, saham saham energi, dan saham perindustrian utamanya menjadi pemberat IHSG dengan tertekan mencapai 2,92%, 2,32%, dan 2,31% begitu juga saham konsumen non primer drop 1,59%, disusul oleh pelemahan pada saham transportasi dengan melemah 1,32%.
Inflasi Mereda
Harga minyak mentah AS bertahan di sekitar US$81 per barel pada awal perdagangan Jumat setelah turun 2,4% pada sesi sebelumnya.
Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan sekaligus mengakhiri reli selama enam hari berturut-turut.
Dua laporan inflasi yang berturut-turut menunjukkan kondisi yang relatif jinak, ditambah laporan ketenagakerjaan pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan serta penurunan harga minyak, telah mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk memperketat kebijakan pada pertemuan bulan depan.
Meskipun belum adanya kesepakatan di Timur Tengah tetap menjadi kekhawatiran, para trader saham juga mulai kembali memusatkan perhatian pada perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) setelah aksi jual saham semikonduktor pada Juli.
Kontrak berjangka indeks saham menunjukkan penguatan di Jepang dan Korea Selatan, sehingga Indeks MSCI Asia Pacific berada di jalur untuk mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, kontrak berjangka Australia turun.
Sebelumnya, S&P 500 naik 0,7% pada Kamis dan mencapai rekor tertinggi, sedangkan Nasdaq 100 melonjak lebih dari 1% ke level tertinggi sejak akhir Juni, seiring peningkatan belanja perusahaan-perusahaan hyperscaler yang mendorong saham-saham teknologi.
(naw)






























