Budi menjelaskan bahwa TB menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di Indonesia. Menurutnya, sekitar 120.000 orang meninggal akibat TB setiap tahun. Angka tersebut membuat Indonesia berada di posisi kedua dari bawah dalam hal tingkat kematian akibat penyakit tersebut, dengan India mencatat jumlah kematian lebih tinggi.
"Kalau kita lihat kenapa orang Indonesia meninggalnya lebih cepat dibandingkan orang di negara maju, salah satu penyebab utama wafatnya orang Indonesia karena penyakit menular adalah tuberkulosis (TB). Ini meninggalnya setahun 120 ribu," katanya.
Menurut Budi, persoalan utama dalam penanganan TB bukan terletak pada ketersediaan obat. Dia mengatakan obat TB sudah tersedia dan efektif untuk menyembuhkan pasien apabila dikonsumsi sesuai ketentuan.
"Masalahnya adalah nggak ketahuan kalau dia sakit TB, karena screening-nya terlambat atau tidak dilakukan," ujarnya.
Karena itu, pemerintah perlu memperbanyak skrining untuk menemukan kasus TB lebih awal. Budi mengatakan teknologi rontgen kini semakin mudah digunakan karena tersedia perangkat berukuran kecil yang dapat dibawa menggunakan kendaraan bermotor.
"Screening-nya memang susah. Yang paling gampang pakai rontgen. Rontgen itu susah banget. Dua alatnya besar sekali, dipasang di rumah sakit. Sekarang teknologi baru, alatnya kecil, bisa digendong, dibawa pakai motor," tuturnya.
Selain puskesmas, pemerintah juga akan memprioritaskan fasilitas kesehatan yang berada di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Budi menilai pendekatan tersebut penting untuk menemukan kasus TB lebih cepat, termasuk di lingkungan pondok pesantren.
"Dan kita akan bagi juga beberapa puskesmas yang banyak penduduk padatnya dengan rontgen yang bisa dibawa pakai motor, seperti yang sekarang dipakai di pondok pesantren," katanya.
Budi mengatakan kepadatan hunian menjadi salah satu alasan pemerintah memperluas skrining TB ke pesantren. Dia membandingkan temuan kasus TB melalui skrining di lingkungan pesantren dan lembaga pemasyarakatan.
Menurutnya, skrining TB menggunakan rontgen di Nusakambangan menemukan sekitar 3% kasus, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata temuan skrining yang berada di kisaran 0,3%.
"Kemarin saya jalan-jalan ke Nusakambangan sama Pak Menteri Imigrasi. TBC pakai rontgen, ketemu 3%. Sepuluh kali lebih tinggi," ujarnya.
Budi menilai kondisi hunian yang padat dapat meningkatkan risiko penularan TB. Hal tersebut juga ditemukan di sejumlah pondok pesantren yang memiliki kamar dengan jumlah penghuni cukup banyak.
"Saya langsung ingat, saya itu dulu sering jalan ke pesantren-pesantren. Wah, itu benar-benar tumpuk-tumpukannya lebih atas bawah, kiri kanan. Tumpuk-tumpukannya padat sekali," kata Budi.
"Jadi saya rasa perlu di-screening di pesantren," lanjutnya.
(dec)




























