Dia juga sempat menyatakan Indonesia memiliki cadangan hidrogen yang melimpah dan diharapkan dapat segera dimanfaatkan.
“PLN harus tinggalkan pembangkit listrik dari diesel, kurang lebih 13 GW harus kita tinggalkan. Sumber-sumber energi lainnya ternyata sungguh sangat banyak,” ungkap Prabowo.
Dalam kesempatan sebelumnya, padahal, Prabowo sempat menyatakan PLN bakal mulai membangun 17 GW PLTS pada tahun ini dari total target 100 GW.
"Tahun ini PLN akan mulai [bangun PLTS] dengan 17 gigawatt tahun ini. 100 gigawatt dalam dua tahun," ungkap Prabowo dalam peluncuran program mandatori biodiesel B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Prabowo pun menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia membidik pembangunan PLTS sebesar 100 GW dalam waktu dua tahun saja.
"Bagaimana nanti kalau kita akan bangun 100 GW tenaga surya tahun ini, PLN akan mulai dengan 17 GW tahun ini, 100 GW dalam 2 tahun bisa? Pak Rosan? Pak Menko?" tanya Prabowo kepada para menteri yang hadir.
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membidik Provinsi Bali sebagai lokasi pengerjaan master plan tahap pertama proyek PLTS berkapasitas total 100 GW tahap pertama.
Bahlil menyampaikan saat ini kementeriannya sedang menyusun perencanaan matang dan menjadwalkan agenda peletakan batu pertama (groundbreaking) bersama Presiden Prabowo Subianto.
“Kita buat master plan dengan perencanaan. Mungkin kita akan buat di Bali. Saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk peresmian tahap pertama PLTS 100 gigawatt ini,” ujar Bahlil saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Adapun, mengenai status proyek PLTS 100 GW dalam RUPTL 2025—2034, Bahlil menegaskan seluruh prosedur dan regulasi perizinan berada di bawah kewenangan Kementerian ESDM. Dia memastikan semua tahapan aturan akan dipenuhi sebelum pelaksanaan groundbreaking.
“Aturan sebelum groundbreaking harus masuk ke mana dahulu? Ya, ke ESDM. Nanti semuanya akan kita sampaikan secara resmi,” kata Bahlil.
(azr/wdh)





























