Mengutip surat yang disampaikan Corporate Secretary PACK Calvin Setiawan kepada otoritas bursa, audit laporan keuangan itu juga dilakukan sehubungan dengan rencana aksi korporasi yang akan dilaksanakan PACK.
“Audit tersebut dilakukan sehubungan dengan rencana aksi korporasi yang akan dilaksanakan oleh perseroan,” dikutip dari keterbukaan informasi, Kamis (13/8/2026).
Aksi korporasi itu dikabarkan berkaitan dengan rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan nilai jumbo sekitar Rp5 triliun.
Rencanannya, menurut sumber yang sama, rights issue itu berkaitan dengan injeksi aset baru ke PACK.
Bloomberg Technoz telah menghubungi manajemen PACK terkait dengan rencana rights issue tersebut lewat surat elektronik atau surel perusahaan. Hanya saja, permohonan konfirmasi belum ditanggapi sampai berita tayang.
Adapun, PACK menjadi kendaraan investasi Deng Weiming di rantai pasok nikel Indonesia. Weiming adalah President CNGR Advanced Materials, salah satu raksasa produsen bahan baku baterai listrik yang menguasai hampir seperempat pasar global.
CNGR Advanced Materials memasok bahan baku baterai setrum kepada sejumlah pabrikan terkenal seperti LG Chem, CATL, Samsung, BYD hingga Tesla.
Weiming memegang kendali PACK lewat lengan investasinya PT Eco Energi Perkasa dengan kepemilikan saham 40,56%.
Belakangan Weiming mengundang Pemilik Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam untuk menguasai sebagian saham PACK pada Mei 2026 lalu.
Haji Isam mengambil bagian 21,12% saham PACK atau sekitar 6,83 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp137 per saham. Nilai investasi akuisisi bagian saham itu mencapai Rp936,65 miliar.
Weiming dan Haji Isam sama-sama berkongsi untuk menggarap pabrik ternary precursor berbasis nikel untuk baterai litium.
Keduanya berkongsi lewat usaha patungan PT Anugerah Barokah Energy Baru (ABEB) di Kawasan Ekonomi Khusus Setangga, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
CNGR sendiri telah menjalankan sejumlah fasilitas pengolahan atau smelter nikel di Indonesia melalui anak usahanya, termasuk PT Nadesico Nickel Industry, PT Zhongtsing New Energy, dan PT Debonair Nickel Indonesia.
Akuisisi Tambang
Sebelumnya, PACK telah melaksanakan rights issue dengan skema obligasi wajib konversi (OWK) yang secara bertahap telah diubah menjadi saham.
Lewat rights issue itu, PACK mengakuisisi 30% saham PT Konutara Sejati dan 34,5% saham PT Karyatam Konawe Utara dari perusahaan non-afiliasi, Denway Development Limited, senilai Rp2,7 triliun.
Kedua perusahaan itu merupakan pengelola tambang nikel yang belakangan menjadi lini bisnis baru PACK di sisi hulu bahan baku baterai listrik.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), PACK mencatatkan tambahan 81.600 saham baru yang berasal dari konversi OWK, efektif 12 Agustus 2026. Dengan aksi tersebut, jumlah saham beredar PACK menjadi 34,10 miliar saham.
Nilai nominal OWK yang masih belum dikonversi kini tersisa sekitar Rp8,43 miliar.
(naw)





























