Presiden AS Donald Trump selama berbulan-bulan bersikap berubah-ubah, antara mengancam akan kembali menyerang Iran dan menyatakan keyakinannya bahwa perundingan untuk mengakhiri perang mengalami kemajuan. Pada Rabu (12/8), ia mengklaim memiliki “kendali penuh atas Selat Hormuz” dalam unggahan di Truth Social, klaim yang berulang kali dibantah Iran melalui serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.
Trump kembali menyatakan bahwa militer Iran telah dihancurkan dan negara tersebut, yang menghadapi tekanan ekonomi, tidak memiliki uang. Namun, Naqdi mengatakan dalam wawancara dengan televisi pemerintah bahwa produksi rudal balistik Iran terus berjalan dan “jauh lebih besar” dibandingkan tingkat penggunaannya, tanpa memberikan perincian.
Sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia diangkut melalui Selat Hormuz sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari. Lalu lintas kapal masih berlangsung, tetapi dengan volume yang jauh lebih rendah dibandingkan sebelum perang. Para produsen menggunakan berbagai jalur alternatif untuk menyalurkan pasokan energi ke pasar global.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan kepada Bloomberg di Islamabad pada Selasa bahwa AS dan Iran “sudah dekat dengan semacam kesepakatan”, tanpa memberikan perincian.
Pada Rabu, kantor Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mengatakan dia telah menyampaikan pesan dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Angkatan Darat Field Marshal Asim Munir kepada pemimpin Iran. Naqvi membantu Munir yang memimpin perundingan tersebut.
Kesepakatan damai sementara dicapai kedua pihak pada Juni, tetapi bentrokan sporadis dan gangguan lalu lintas maritim masih berlangsung sehingga kesepakatan tersebut praktis tidak lagi berlaku. Salah satu ketentuannya adalah periode negosiasi selama 60 hari, yang kini mendekati batas waktunya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi mengatakan pada Rabu bahwa periode tersebut dapat diperpanjang.
“Kami jelas berada dalam kebuntuan,” kata mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman kepada Bloomberg TV. “Kecuali AS bersedia mengizinkan Iran dan mungkin Oman memberlakukan tarif sukarela atau memberikan Iran keringanan sanksi dan pencairan aset yang dibekukan dalam jumlah yang cukup besar sehingga menguntungkan bagi mereka, saya rasa kita tidak akan dapat membuka jalur tersebut untuk jangka waktu yang berkelanjutan.”
“Saya pikir kenyataannya adalah, untuk masa mendatang, jika bukan selamanya, Iran yang akan mengendalikan Selat Hormuz,” tambahnya.
Al Jazeera sebelumnya melaporkan bahwa perundingan Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjut, mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar. AS tidak terlibat langsung dalam perundingan tersebut, meski telah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Mohsen Rezaee, sekretaris baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan kesepakatan apa pun dengan Oman akan tetap terpisah dari pembahasan mengenai pembukaan penuh Selat Hormuz, menurut laporan kantor berita pemerintah IRIB. Syarat apa yang akan diajukan Iran untuk pembukaan tersebut masih belum jelas.
Iran telah menyampaikan tuntutan kepada Washington melalui perantara, termasuk agar AS mengakhiri perang dan mencairkan aset Iran yang dibekukan, kata IRIB mengutip Rezaee pada Selasa. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuannya dengan Duta Besar China untuk Iran Cong Peiwu di Teheran.
Harga minyak bergerak stabil karena investor masih belum yakin terhadap prospek tercapainya kesepakatan di Timur Tengah. Minyak mentah Brent, patokan global, diperdagangkan di sekitar US$89 per barel di London pada Rabu.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dalam unggahan di media sosial pada Selasa bahwa rata-rata minyak yang keluar melalui Selat Hormuz selama tujuh hari mencapai hampir 9 juta barel per hari. Angka tersebut meningkat menjadi 15 juta barel per hari jika aliran minyak melalui jaringan pipa dan fasilitas ekspor yang baru ditingkatkan turut diperhitungkan.
Sebuah helikopter Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal ke kapal kargo berbendera Panama yang mencoba melintasi Teluk Oman pada Selasa, kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam unggahan di X. Menurut CENTCOM, kapal tersebut sedang menuju pelabuhan Iran dan melanggar blokade AS.
Terlepas dari serangan-serangan tersebut, apa yang disebut sebagai transit bolak-balik (shuttle transits) melintasi selat tetap berlangsung, menjaga keran pasokan minyak utama tetap terbuka. Citra satelit menunjukkan kapal-kapal melakukan pemindahan muatan di luar Selat Hormuz, mengindikasikan bahwa beberapa kapal tanker terus melintas dengan mematikan sistem pelacak.
Eskalasi di Timur Tengah meluas melampaui konflik AS-Iran. Israel terus terlibat bentrokan dengan Hizbullah di Lebanon selatan dan melancarkan serangan terhadap Hamas di Gaza. Sementara itu, kelompok Houthi yang disokong Iran kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dari Yaman, di mana serangan terbaru terjadi pada hari Selasa.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyampaikan melalui X bahwa tiga warga negara Pakistan termasuk di antara enam orang yang tewas dalam serangan terhadap kapal komersial tersebut.
(bbn)
































