“Munculnya pasokan dari India ini sangatlah mencolok,” kata Sumit Ritolia, analis utama di Kpler. Kargo-kargo tersebut, yang melengkapi impor berkelanjutan dari Belarus dan pasar negara tetangga lainnya, menyoroti “seberapa parahnya ketidakseimbangan pasokan bensin domestik saat ini, serta sejauh mana penurunan kapasitas pengolahan di kilang-kilang mengubah aliran perdagangan produk tradisional Rusia,” ujarnya.
Pasar energi global tengah menghadapi dampak dari dua konflik besar: Kyiv terus melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia, sementara AS dan Iran terus bersitegang di Timur Tengah.
Gangguan gabungan ini memperketat kondisi pasar bahan bakar, yang mendorong Moskwa—yang biasanya merupakan pemasok bahan bakar ke luar negeri—melarang ekspor bensin dan solar demi memprioritaskan kebutuhan konsumen dalam negeri.
Menyusul serangkaian serangan, EA Analytics memperkirakan tingkat pengolahan minyak mentah Rusia berada di angka 3,6 juta barel per hari pada Juli, atau sekitar sepertiga di bawah angka rata-rata musiman.
Sejak saat itu, Kyiv telah meningkatkan intensitas serangan, dengan menghantam lima fasilitas pengolahan pekan lalu dan setidaknya dua fasilitas lainnya pekan ini.
Kementerian Energi Rusia, Kementerian Perminyakan India, dan tim humas Nayara tidak menanggapi permintaan komentar dari Bloomberg.
Sejak dijatuhi sanksi oleh Uni Eropa pada Juli tahun lalu, Nayara mengandalkan kapal tanker yang disebut “dark-fleet” (armada gelap) dan operasi transshipment (alih muatan) untuk menerima pasokan minyak mentahnya, serta mengekspor bahan bakar.
Kilang minyaknya yang berkapasitas 400.000 barel per hari di Vadinar, pesisir barat India, juga perlu memperluas pasar ekspornya, setelah pembeli utama, Hindustan Petroleum Corp, baru-baru ini mulai memproduksi lebih banyak bahan bakar sendiri di wilayah tersebut.
Untuk pengiriman perdana, kapal tanker produk berbendera Rusia, Cyclone (sebelumnya bernama Agni), memuat kargo bensin seberat 42.000 ton dari Vadinar pada 18 Juni, menurut data pelacakan kapal yang dikompilasi oleh Bloomberg.
Bahan bakar tersebut kemudian dipindahkan ke kapal berbendera Oman, Garnet di Pelabuhan Damietta, lepas pantai Mediterania Mesir, pada 6 Juli. Kapal tersebut kemudian tiba di Rusia pada awal Agustus.
Pengiriman bensin lebih lanjut mungkin akan menyusul. Kapal tanker produk Varg memuat hampir 40.000 ton bahan bakar di Vadinar pada 6 Juli dan kemungkinan melakukan transfer antar-kapal (STS) di Damietta pada akhir Juli, berdasarkan perubahan kedalaman draft-nya, menurut data Kpler. Transfer STS biasanya dilakukan agar masing-masing kapal dapat memangkas waktu perjalanan.
Belum ada kapal penerima yang dikonfirmasi, meski Kpler mengidentifikasi Beast sebagai kemungkinan kandidat. Kapal tersebut sempat di Damietta dan tercatat mengalami peningkatan kedalaman draft pada 30-31 Juli.
Beast sebelumnya telah menandai Tangier, Maroko, sebagai tujuan, tetapi kini telah melewati pelabuhan tersebut dan sedang berlayar ke utara di Samudra Atlantik, dengan muatannya masih utuh, menurut data tersebut.
Kapal tanker produk lainnya, Photon yang berbendera Kamerun, juga bertolak dari Vadinar pada 13 Juli sebelum memindahkan kargo bensinnya di Damietta ke kapal berbendera Rusia, Talisman, pada 28-29 Juli, menurut data tersebut.
Kapal-kapal ini terdaftar di registrasi Rusia, kecuali Garnet. Semuanya telah dikenai sanksi oleh Uni Eropa, sementara Garnet dan Talisman juga menjadi sasaran sanksi AS.
“Tujuan akhir kapal Talisman dan Beast belum dapat dipastikan, tetapi pola perdagangan yang muncul mengindikasikan bahwa pusat STS Damietta terus memfasilitasi pergerakan bensin asal India menuju jalur impor Rusia,” ungkap Kpler dalam laporan.
(bbn)





























