Dari segi pembiayaan, investasi mesin konversi untuk skala kecil, rumah tangga, maupun tingkat desa tergolong relatif terjangkau. Masyarakat atau pemerintah daerah dapat memulainya dengan nilai investasi sekitar Rp50 juta hingga Rp150 juta.
"Investasi mesin cukup untuk skala kecil, rumah tangga atau desa terjangkau antara Rp50 juta sampai Rp150 juta,” ungkapnya.
Selain proses pemilahan di TPA, Ismoyo mengatakan kendala logistik juga dapat bersumber dari sifat bahan baku sampah plastik dan organik yang memiliki kerapatan massa (bulk density) sangat rendah.
Kondisi ini menyebabkan truk pengangkut cepat penuh oleh volume sampah, meskipun bobot tonasenya belum maksimal.
“Dampaknya, biaya angkut per kilogram bahan baku menjadi sangat tinggi dan menggerus marjin keuntungan bahan bakar sintetis yang dihasilkan,” jelasnya.
Persoalan geografis dan sebaran lokasi sumber sampah di Indonesia juga memperpanjang rantai distribusi bahan baku.
Hadi mengatakan di Indonesia, pusat limbah tersebar secara sporadis di pemukiman warga, pasar tradisional, hingga kawasan industri tanpa jalur pengumpulan yang efisien.
Tanpa adanya fasilitas perantara seperti Intermediate Treatment Facility (ITF) di setiap wilayah, biaya logistik untuk membawa sampah mentah menuju pabrik pengolahan dapat membengkak melebihi nilai jual produk BBM itu sendiri.
Di samping masalah moda transportasi, kadar air dan kontaminasi pada limbah domestik turut menjadi kendala operasional logistik yang serius.
Sampah rumah tangga di negara berkembang umumnya tercampur antara limbah basah dan kering, sehingga sampah cepat membusuk dan merusak sarana penampungan selama proses transit.
“Hal ini membutuhkan sistem penyimpanan khusus berpendingin atau tertutup rapat yang berimplikasi langsung pada pembengkakan biaya investasi awal logistik [capital expenditure],” kata dia.
Terakhir, ketidakpastian volume dan kualitas pasokan sampah harian kerap mengganggu kontinuitas distribusi bahan baku ke unit konversi energi.
“Pabrik pengolahan seringkali kesulitan menjaga tingkat produksi BBM yang stabil karena pasokan sampah terganggu oleh faktor iklim, cuaca, hingga fluktuasi aktivitas sosial masyarakat,” ungkapnya.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana mengembangkan teknologi pengelolaan sampah plastik untuk dijadikan BBM setara solar atau diesel.
Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan pihaknya telah menerapkan teknologi pirolisis di 80 titik untuk mengolah sampah menjadi BBM yang ditujukan bagi kebutuhan para nelayan dan petani.
Arif menyampaikan bahwa program tersebut menjadi salah satu solusi penanganan sampah dari tingkat rumah tangga hingga desa.
"Di tingkat desa ada teknologi pirolisis yang hasilnya bisa menghasilkan bahan bakar [BBM] untuk kebutuhan para nelayan sekaligus untuk para petani," kata Kepala BRIN Arif Satria di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Senin (10/8/2026).
"Teknologi ini sudah diterapkan di 80 titik," tambahnya.
Arif menambahkan, melalui teknologi pirolisis, sampah nonorganik diolah menjadi bahan bakar alternatif, sedangkan sampah organik di tingkat rumah tangga dapat diselesaikan secara mandiri.
Dalam paparannya, Arif juga mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto tertarik pada inovasi pengelolaan sampah yang dikembangkan oleh BRIN tersebut.
Selain teknologi pirolisis di tingkat desa, BRIN juga menyediakan inovasi alat bernama Lahsamor untuk level rumah tangga.
“Beliau [Presiden Prabowo] sangat tertarik adalah terkait dengan soal sampah. Karena BRIN sudah menyediakan berbagai level teknologi untuk menyelesaikan masalah sampah baik pada level rumah tangga melalui Lahsamor ya,” jelasnya.
Lahsamor merupakan alat pengolah sampah organik berbentuk tabung atau drum praktis yang dirancang minim bau.
Alat tersebut mampu mengolah sisa makanan harian sebanyak 0,5 hingga 1 kilogram secara mandiri tanpa proses yang rumit, yaitu cukup dengan memasukkan sampah dan memutar tuas alat secara berkala.
Adapun selain Lahsamor, BRIN juga tengah mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah tingkat perkotaan yaitu Lahsamidin (Liquid Fuel from Plastic Waste with Advanced Pyrolysis System for Industrial Scale) generasi kedua.
Lahsamidin merupakan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak skala industri.
(smr/wdh)





























