Indonesia Catat Angka Tertinggi
BPOM turut mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam Scientific Reports pada 2023 terkait kejadian esofagitis erosif di berbagai negara.
Berdasarkan penelitian observasional yang dikutip tersebut, Indonesia memiliki angka prevalensi esofagitis erosif sebesar 55%, tertinggi dibandingkan negara lain dalam analisis. Selanjutnya India sebesar 52%, Nigeria dan Peru masing-masing 50%, serta Albania 48%.
Tingginya angka kejadian tersebut menjadi salah satu konteks yang disampaikan BPOM ketika menjelaskan hadirnya terapi baru untuk pengobatan esofagitis erosif.
Fexuprazan 40 Mg
Dalam materi BPOM, fexuprazan diberikan secara oral kepada pasien dewasa dengan dosis 40 mg sekali sehari selama empat minggu. Obat tersebut dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
BPOM menyebut hasil uji klinis fase III menunjukkan fexuprazan 40 mg memiliki efektivitas yang sama dengan esomeprazole dalam pengobatan esofagitis erosif.
Dalam materi tersebut, efektivitas fexuprazan tercatat 95%, sementara esomeprazole sebesar 92,9% setelah pemberian selama delapan minggu.
Dari sisi keamanan, BPOM mencantumkan sejumlah efek samping yang umum terjadi, antara lain diare, sakit kepala, kemerahan pada kulit atau gatal, serta nyeri punggung.
Fexuprazan sendiri ditujukan untuk pengobatan esofagitis erosif, sehingga penggunaannya tetap perlu mengikuti indikasi, dosis, serta petunjuk tenaga kesehatan.
Kehadiran fexuprazan menambah pilihan terapi dengan zat aktif baru bagi pengobatan esofagitis erosif. BPOM menyatakan penerbitan izin edar tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap hadirnya terapi inovatif untuk memenuhi kebutuhan pengobatan masyarakat.
(dec)






























