Sementara, untuk memindahkan sapi ke area baru, kalung menggunakan getaran sebagai tanda arah. Sapi dilatih selama sekitar tujuh hingga 10 hari untuk memahami berbagai sinyal tersebut.
Di balik sistem tersebut terdapat teknologi AI yang disebut Halter sebagai The Cowgorithm. Perusahaan menjelaskan algoritma tersebut dirancang untuk memahami perilaku hewan dan secara otomatis melatih sapi merespons petunjuk suara arah dari kalung.
Sistem Halter juga mengumpulkan data dalam jumlah besar. Menurut perusahaan, setiap kalung dapat mengumpulkan dan mengirim lebih dari 6.000 titik data setiap menit ke platform berbasis cloud. Data tersebut kemudian diproses secara real time dan ditampilkan kepada peternak melalui aplikasi sebagai informasi mengenai lokasi, perilaku, dan kondisi ternak.
Halter juga mengembangkan apa yang disebut sebagai digital twin untuk peternakan. Teknologi ini memberikan gambaran kondisi peternakan secara langsung melalui aplikasi, termasuk lokasi ternak, pola penggembalaan, serta riwayat aktivitas di setiap area.
Teknologi tersebut memungkinkan peternak membagi lahan menjadi area-area penggembalaan yang lebih kecil dan memindahkan kawanan secara lebih sering. Halter menyebut pendekatan ini dapat membantu meningkatkan pemanfaatan rumput dan menjaga tekanan penggembalaan agar lebih konsisten.
Tak Lagi Bergantung pada Menara Sinyal
Salah satu perkembangan terbaru Halter adalah konektivitas satelit. Pada April 2026, perusahaan mengumumkan teknologi direct-to-satellite untuk kalung sapi melalui kerja sama dengan One NZ Satellite yang menggunakan jaringan Starlink.
Dengan teknologi tersebut, kalung dapat berkomunikasi dengan aplikasi melalui satelit tanpa membutuhkan menara komunikasi di peternakan maupun jaringan seluler. Halter menyebut teknologi ini dirancang khusus untuk peternakan sapi yang berada di wilayah terpencil dan memiliki lahan sangat luas.
Menurut Halter, konektivitas satelit membuat sistem dapat digunakan di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau karena keterbatasan jaringan. Perusahaan memperkirakan teknologi tersebut dapat memperluas akses terhadap sistem Halter di peternakan sapi Selandia Baru setidaknya 20%.
Saat ini, kalung berbasis satelit Halter tersedia untuk peternakan sapi di Selandia Baru serta peternakan atau ranch di Amerika Serikat dan Kanada. Perusahaan juga menyatakan layanan tersebut akan segera tersedia untuk operasi sapi di Australia.
Berawal dari Peternakan di Selandia Baru
Halter didirikan pada 2016 oleh Craig Piggott, yang kini menjabat sebagai CEO. Piggott tumbuh di peternakan sapi perah keluarga di Waikato, Selandia Baru, sebelum bekerja di perusahaan antariksa Rocket Lab.
Menurut cerita yang dipublikasikan Halter, Piggott meninggalkan Rocket Lab pada 2016 untuk mengembangkan teknologi bagi sektor pertanian. Ia kemudian mengajak mantan atasannya di Rocket Lab, Peter Beck, sebagai investor dan anggota dewan awal perusahaan.
Halter awalnya mengembangkan teknologi untuk peternakan sapi perah sebelum memperluas produknya ke peternakan sapi potong. Produk untuk sapi potong diluncurkan pada 2023, dengan fokus pada virtual fencing, penggembalaan rotasi dan pemindahan ternak secara jarak jauh.
Perusahaan kini telah berkembang menjadi salah satu startup agritech dengan ekspansi global. Halter menyebut lebih dari 1 juta kalung telah digunakan dan perusahaan memiliki lebih dari 2.000 pelanggan. Teknologinya digunakan di Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat dan Kanada.
Pada 2026, Halter juga mengumumkan pendanaan Seri E senilai US$220 juta untuk mempercepat ekspansi global dan pengembangan produk. Perusahaan mengatakan modal tersebut akan digunakan untuk mendukung peternak di Selandia Baru serta memperluas bisnis di Amerika Serikat dan pasar lainnya.
Dengan sistem tersebut, Halter mencoba mengubah cara peternakan sapi mengelola lahan. Pagar tidak lagi harus selalu berupa kawat dan tiang, sementara pemindahan kawanan tidak selalu membutuhkan peternak berada di tengah padang rumput.
Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia untuk menentukan strategi penggembalaan dan mengawasi kondisi ternak. AI dan sensor berperan sebagai sistem pengendali dan pemantau, sementara keputusan mengenai kapan dan di mana sapi digembalakan tetap berada di tangan peternak.
(fik/wep)






























