BI harus bisa memastikan rupiah tidak kembali tertekan tanpa membuat kondisi moneter menjadi terlalu ketat bagi dunia usaha dan rumah tangga. Di sisi lain, pelonggaran kebijakan yang terlalu agresif juga berisiko kembali menekan rupiah dan memicu arus modal keluar.
Karena itu, pasar kemungkinan akan mencermati tiga hal dari kepemimpinan Destry. Pertama, seberapa kuat komitmen BI mempertahankan stabilitas rupiah. Kedua, bagaimana bank sentral mengelola suku bunga di tengah perubahan arah kebijakan global. Ketiga, seberapa independen BI dalam menentukan kebijakan moneternya.
Sebagai catatan, meski hari ini rupiah menguat, sejatinya rupiah sepanjang kuartal kedua 2026 telah melemah sebesar 4,96%, dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Memasuki Agustus, rupiah tercatat berkinerja lebih baik, dan terapresiasi 1,28% secara month to date (mtd).
(dsp/aji)



























