“Kalau kita penggunaan panel surya (solar cell) yang selama ini menjadi alternatif kerap menyulitkan petani dari segi perawatan. Karena itu, intervensi listrik masuk sawah dari pemerintah dipandang sebagai solusi stimulus paling tepat agar beban krisis air tidak sepenuhnya ditanggung oleh petani,” ungkap dia.
Menurut APJI jika pemerintah dapat hadir di wilayah-wilayah ada di lahan-lahan irigasi teknis, baik itu padi, atau jagung maka akan akan lebih mudah petani untuk mengambil air dalam tanah untuk peningkatan produksi.
“Karena panas El Nino ini pasti dapat, air cukup, produksinya pasti akan sangat bagus sekali," tambahnya.
Adapun, mengenai durasi dan pola iklim, Sholahuddin mengungkapkan bahwa cuaca panas ekstrem dan kekeringan akibat El Nino sudah mulai terasa sejak Juni. Kondisi ini bahkan menyebabkan tanaman di area non-irigasi teknis mendadak kering dan mati. Kendati mengenai durasi pastinya merupakan wewenang BMKG untuk memprediksi, ancaman terhadap pola tanam nasional sudah di depan mata.
APJI menyoroti bahwa dampak terbesar dari El Nino diperkirakan baru akan menghantam sektor produksi jagung nasional pada tahun depan. Sebab, 65% dari total produksi jagung nasional ditopang oleh pertanaman kuartal pertama (periode Oktober–Maret).
Apabila El Nino berlanjut dan mengundur datangnya musim hujan hingga akhir Desember atau awal Januari, siklus tanam dipastikan akan terganggu.
"Kalau ini nanti mundur di bulan Desember apalagi sampai Januari dipastikan kan petani hanya bisa menanam satu kali untuk lahan-lahan marginal sehingga penurunan produksi pasti akan sangat tinggi sekali Pak di 2027," tutur Sholahuddin.
Ia menerangkan bahwa dalam kondisi normal, petani mampu melakukan dua kali masa tanam dalam setahun. Musim tanam pertama dimulai pada Oktober–November untuk dipanen pada Februari–Maret, yang kemudian langsung dilanjutkan dengan musim tanam kedua pada Februari–Maret untuk dipanen pada Juni–Juli.
"Nah tapi kalau nanti mundur mulai tanam, mulai hujannya di akhir Desember apalagi di awal Januari, secara otomatis petani hanya bisa menanam satu kali," ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan dukungan pemerintah untuk kebutuhan pangan masyarakat terutama di tengah ancaman El Nino. Airlangga mengatakan penanganan sektor pertanian akan menjadi perhatian utama pemerintah. Terutama terkait isu ketersediaan air bagi lahan pertanian di sejumlah wilayah.
“Yang paling penting terutama untuk pertanian adalah, bagaimana memindahkan air dari sungai-sungai yang ada ke daerah pertanian. Beberapa waktu yang lalu sudah dilakukan pompanisasi,” kata Airlangga, saat memberi keterangan pada hari yang sama.
Airlangga juga mengatakan pemerintah akan memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak, sebelum menyalurkan insentif melalui kementerian dan lembaga terkait.
“Insentif yang diberikan nanti sesuai dengan kementerian dan lembaga yang terkait. Pemerintah tentu akan siapkan anggaran yang diperlukan” imbuhnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan fenomena El Nino di Indonesia telah memasuki kategori kuat. Fenomena ini bahkan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, pada Agustus hingga September 2026.
“BMKG telah mencatat lebih dari 4.900 titik panas hingga akhir Juli 2026,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan beberapa wilayah yang berpotensi menghadapi kebakaran hutan di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
(ain)






























