Dalam kesempatan sebelumnya, Tony menargetkan perbaikan tambang bawah tanah GBC dapat mencapai level 65% pada semester II-2026. Kemudian, pada semester I-2027 perbaikan ditargetkan mencapai level 75%.
“Semester kedua ini bisa 65%. Semester pertama tahun depan itu bisa 75% dan menjelang akhir tahun itu menuju ke 100%,” ungkap Tony ketika ditemui awak media di Kompleks DPR, Rabu (10/6/2026).
Sebagai informasi, pada April lalu, Tony mengumumkan perseroan kembali membuka secara terbatas tambang bawah tanah GBC yang sebelumnya ditutup gara-gara mengalami longsor. Namun, perbaikan secara menyeluruh ditargetkan baru akan rampung kuartal I-2027.
Tony mengungkapkan blok produksi atau production block (PB) 2 dan 3 di tambang GBC sudah dibuka kembali dan dilakukan penambangan terbatas, sementara blok produksi 1 masih ditutup dan perbaikannya ditargetkan rampung pada 2027.
“Saat ini kami masih melakukan proses pemulihan di Grasberg Block Cave khususnya Production Block 1 yang memang sangat terdampak pada saat longsor itu terjadi. Sementara itu, untuk Production Block 2 di Grasberg Block Caving dan Production Block 3 itu sudah mulai kami lakukan penambangan secara terbatas,” kata Tony dalam RDP di Komisi XII, medio April.
Tony mengungkapkan perbaikan blok produksi 1 bakal dimulai pada Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada kuartal I-2027.
Sejalan dengan pemulihan dan pemeliharaan tambang GBC, Freeport memprediksi produksi bijih tembaga bakal mencapai 200.000 ton per hari pada 2027. Sementara pada tahun ini, target produksi bijih dicanangkan sebesar 156.000 ton per hari.
Untuk diketahui, smelter pertama milik Freeport yakni PT Smelting dibangun pada 1996 bersama konsorsium Jepang dan dioperasikan oleh Mitsubishi. PT Smelting terletak di Gresik, Jawa Timur dan menjadi smelter tembaga pertama di Tanah Air.
PT Smelting disebut mampu mengolah 1.00.000 ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya, Freeport memiliki smelter katoda tembaga di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur. Pembangunan dimulai pada Oktober 2021, tetapi tertunda akibat pandemi Covid-19 sebelum akhirnya diresmikan pada Kamis (27/6/2024).
Smelter kedua PTFI ini merupakan smelter katoda tembaga dengan desain single line terbesar di dunia dan dirancang untuk mampu memurnikan konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi hingga 1,7 juta ton setelah beroperasi penuh.
Fasilitas ini dilengkapi unit refinery, unit pemurnian logam mulia, unit oksigen, unit asam sulfat, dan unit desalinasi serta unit effluent and wastewater treatment plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai high efficiency smelting and refining process.
Hanya berselang tiga pekan sejak diresmikan, smelter tembaga kedua Freeport tersebut mengalami insiden kebakaran hingga harus menjalani proses perbaikan dan penyetopan sementara produksi.
Akibat kejadian itu, Freeport diizinkan untuk melanjutkan ekspor konsentrat tembaga pada 2025. Izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan selama enam bulan yakni sejak 17 Maret 2025 hingga 16 September 2025.
(azr/ros)































