Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, jika Bank Indonesia (BI) mengabarkan posisi cadangan devisa meningkat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan lebih terbatas. Sebab, dengan cadangan itu pasar mendapat sinyal bahwa devisa masih cukup kuat untuk mengimbangi kebutuhan impor dan menjaga stabilitas pasar keuangan, walaupun tekanan eksternal tetap tinggi akibat tensi geopolitik yang kembali panas. 

Dalam paparannya bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) awal pekan ini, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menyebut posisi cadangan devisa Indonesia tetap terjaga sebesar US$145,6 miliar, setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

Namun, secara fundamental, ruang apresiasi rupiah kemungkinan masih dibatasi oleh kondisi sektor eksternal yang belum pulih. Penambahan cadangan devisa juga diperkirakan belum sepenuhnya optimal jika melihat kinerja perdagangan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) awal pekan ini. BPS melaporkan ekspor hanya tumbuh 4,13%, sementara impor tumbuh 8,82%. 

Defisit neraca migas juga tercatat melebar hingga mencapai US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar. Akhirnya membuat surplus perdagangan nasional menyusut menjadi hanya US$3,58 miliar.

Dari sisi eksternal, arah rupiah juga masih akan dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS dan harga energi. Kembali naiknya harga minyak berpotensi memperburuk prospek inflasi impor Indonesia, sekaligus menambah kebutuhan devisa untuk impor migas. 

Kondisi ini dapat memperlebar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan dan mengurangi pasokan dolar AS di pasar domestik jika berlangsung dalam waktu lama. Dengan kombinasi itu, rupiah berpotensi melemah dan bergerak di rentang Rp17.940-Rp17.980/US$ dalam perdagangan di pasar spot hari ini. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi melemah, dibayangi sentimen yang kurang positif di pasar, dengan target pelemahan menuju level Rp17.950/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua harus tertahan di Rp17.980/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 7 Agustus 2026 (Sumber: Bloomberg)

Apabila kembali break kedua support tersebut dengan volume yang besar, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menembus level pesimistis Rp18.100/US$ sebagai support paling terkuatnya.

Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level range Rp17.900/US$ dan selanjutnya kembali menuju Rp17.840/US$ potensialnya.

(riset)

No more pages