Logo Bloomberg Technoz

Kendati demikian, Handy tetap bullish terhadap saham ASII, di mana ASII tetap berhasil mempertahankan pangsa pasar penjualan wholesales kendaraan roda empat sebesar 51% pada enam bulan pertama 2026, didukung oleh permintaan yang kuat terhadap kendaraan hybrid dan kendaraan komersial (commercial vehicle/CV). 

“Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor otomotif, didukung oleh permintaan kendaraan komersial yang tetap kuat serta berlanjutnya peluncuran model-model baru,” papar Handy dalam riset terbarunya, mengutip Rabu (5/8/2026).

Saham ASII pun tetap menjadi pilihan utama (top pick) berkat prospek peningkatan total shareholder return yang masih berlanjut.

Adapun konsensus Bloomberg menghasilkan target harga saham ASII berpotensi mencapai Rp6.583/saham dalam 12 bulan ke depan.

Sebagai sentimen tambahan, pemulihan pasar otomotif nasional turut menjadi pendorong kinerja ASII pada semester II–2026. Hal tersebut tercermin dari performa penjualan mobil Astra pada semester I–2026 yang melesat 10% year–on–year menjadi 222.371 unit, sementara penjualan mobil nasional menguat 16% yoy menjadi 436.564 unit.

Astra pun berhasil mempertahankan dan menguasai pangsa pasar di posisi 51%, sehingga berada dalam posisi kuat untuk memanfaatkan pemulihan permintaan kendaraan. Kinerja tersebut didominasi di segmen Low Cost Green Car (LCGC), dengan penguasaan 78% pasar nasional, bahkan mencapai pangsa pasar 85% pada bulan Juni 2026.

Isu Agresivitas Merek Mobil Asal China 

Saham ASII saat ini tengah diselimuti sentimen agresivitas merek-merek mobil asal China yang dinilai memberikan tekanan bagi produsen mobil Jepang di dalam negeri. Situasi tersebut tercermin dari mulai bergesernya peta persaingan di pasar otomotif nasional. Sejalan dengan hal ini, segmen entry level pun juga tidak lagi hanya didominasi mobil Jepang.  

Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengingatkan tantangan utama pabrikan Jepang kini bukan lagi perihal menghadirkan produk EV baru, melainkan mampu bersaing dari sisi harga, teknologi, dan kecepatan inovasi dengan produsen China yang dinilai bergerak lebih agresif.

“Jika transisi berjalan terlalu lambat sementara kompetitor Jepang tersebut terus mempercepat inovasi dan efisiensi biaya, persaingan di segmen volume akan semakin ketat,” ujar Yannes kepada Bloomberg Technoz medio Agustus lalu.

(fad/aji)

No more pages