Logo Bloomberg Technoz

Belum termasuk pembelian tiga pasang sepatu untuk kebutuhan olahraga berbeda yang masing-masing dibanderol Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta, suplemen sekitar Rp300 ribu per bulan, serta kebutuhan protein sekitar Rp200 ribu setiap pekan.

"Untuk saat ini pengeluaran coaching aku ada tiga yang rutin, lari, gym, dan tenis. Sebulan itu sekitar Rp4 juta. Lari awalnya cuma coba-coba karena dulu enggak suka lari, capek. Setelah coaching buat persiapan race di Belitung, kok jadi enak. Kalau gym buat maintenance tubuh dan jadi me time, sedangkan tenis memang buat pergaulan," kata Linda.

Bagi Ilham, padel menjadi olahraga yang menawarkan pengalaman berbeda karena mempertemukan banyak orang baru. Berawal dari ajakan teman, kini dia rutin bermain dan tak ragu mengeluarkan uang untuk perlengkapan. Selain biaya sewa lapangan sekitar Rp135 ribu per jam, dia menggunakan raket Yonex seharga sekitar Rp12 juta.

"Awal mula suka padel karena diajak teman. Enak banget main padel, kita bisa ketemu orang-orang baru karena janjian lewat aplikasi dan random sesuai level. Raket gue harganya Rp12 juta, tapi di komunitas enggak ada yang pandang bulu. Mau pakai raket Rp600 ribu atau kaos biasa saja, kalau mainnya bagus tetap dihargai," ujar Ilham

Sementara itu, Ria memiliki cerita berbeda. Gym awalnya menjadi bagian dari proses pemulihan setelah menjalani operasi lutut akibat kecelakaan. 

Namun seiring waktu, dia justru jatuh cinta pada olahraga angkat beban hingga tertarik mengikuti kompetisi powerlifting. Keputusan itu membuatnya harus membeli berbagai perlengkapan penunjang serta mengeluarkan biaya rutin untuk nutrisi dan pelatih.

"Awalnya gue gym karena rekomendasi terapis setelah operasi lutut. Lama-lama malah cinta banget sama gym sampai pengin ikut powerlifting. Belt buat squat dan deadlift sekitar Rp800 ribu, wrist wrap Rp200 ribu, knee sleeve Rp500 ribu. Belum dada ayam Rp500 ribu sebulan, susu Rp300 ribu, vitamin Rp200 ribu, sama coach Rp3 juta per bulan," tutur Ria.

Hobil mahal simbol status

Fenomena masyarakat yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk olahraga dinilai tidak lepas dari faktor sosial. Sosiolog Kriminalitas dan Dosen Purna Universitas Gadjah Mada, Dr. Drs. Soeprapto, SU, mengatakan setiap individu hidup dalam struktur sosial yang di dalamnya terdapat ukuran seperti performa, status sosial, prestise, hingga privilese.

"Manusia itu memiliki sifat seperti air di pipa kapiler, yaitu ingin naik ke permukaan atau titik puncak. Nah, jenis olahraga seperti Hyrox, padel, atau maraton sekarang menjadi simbol status sebagaimana tenis dan golf pada masa lalu," ujar Soeprapto.

Menurut dia, pada sebagian orang, motivasi mengikuti tren olahraga bukan hanya untuk memperoleh manfaat kesehatan, tetapi juga mendapatkan pengakuan sosial dari lingkungan.

"Jadi kadang tujuan utamanya bukan olahraganya, tetapi status sosial yang akan dimilikinya. Meski begitu, ini tentu tidak berlaku bagi semua orang karena ada juga yang memang berolahraga karena kebutuhan fisik atau kecintaannya pada cabang olahraga tertentu," katanya.

Soeprapto menambahkan, fenomena serupa juga terlihat dalam berbagai gaya hidup masyarakat perkotaan. Dari pengamatannya, banyak orang mendatangi tempat-tempat yang dianggap bergengsi bukan semata karena produk yang ditawarkan, melainkan untuk mendapatkan pengakuan di media sosial.

"Belum lama ini saya mengamati konsumen di kafe es krim bergengsi. Ternyata sebagian besar bukan es krimnya yang dicari, tetapi swafoto yang kemudian diunggah ke media sosial agar mendapat pujian dari anggota komunitasnya," ujarnya.

(dec)

No more pages