Kemudian, nikel dan barang daripadanya mengalami kenaikan nilai ekspor 69,30%, meski volumenya turun 12,14%. Terakhir, lemak dan minyak hewani/nabati mengalami kenaikan nilai 10,45%, meski volume ekspor turun 7,09%.
Sebelumnya, konsensus yang dihimpun Bloomberg hingga Jumat (31/7/2026), memperkirakan nilai ekspor Indonesia masih terkontraksi 0,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), meski membaik dibanding kontraksi Mei yang sebesar 5,73%.
Sebaliknya, impor Indonesia pada Juni 2026 diproyeksi tumbuh 22,3%, nyaris tidak berubah dari realisasi Mei sebesar 22,16%.
Jika terealisasi, perbaikan yang terjadi pada impor bisa dibaca sebagai tanda bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergairah. Namun, data ekspor yang masih terkontraksi menggambarkan bahwa mesin penghasil devisa sepertinya belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan domestik yang tergambar dari impor.
Kinerja Ekspor Kumulatif Januari-Mei 2026
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, total nilai ekspor mencapai US$140,81 miliar atau naik 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Kenaikan ini didorong oleh nilai ekspor nilai ekspor nonmigas yang naik 4,90% dengan nilai US$134,58 miliar. Di sisi lain, nilai ekspor migas tercatat senilai US$6,23 miliar atau turun 10,19%.
“Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi pada nikel dan barang daripadanya, lemak dan minyak hewani/nabati, dan bahan bakar mineral,” ujar Ateng.
Berdasarkan sektornya, sektor industri pengolahan ini menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari hingga Juni 2026 dengan andil sebesar 6,18% terhadap kenaikan total ekspor,” kata Ateng.
Secara detail, dia menyebut bahwa ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya serta semi-alumunium.
(lav)



























