Meskipun demikian, Yin memandang Indonesia sebelumnya pernah menghadapi situasi ketidakpastian kebijakan yang serupa tanpa menimbulkan perubahan besar pada kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Sebagai contoh, ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani yang telah lama menjabat mengundurkan diri, banyak pihak mempertanyakan arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan. Namun, faktanya pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit anggaran agar tidak melebihi 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
S&P Global Ratings sebelumnya mengumumkan tetap mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook untuk peringkat jangka panjang tetap stabil.
“Peringkat dan prospek kami terhadap Indonesia mencerminkan harapan kami bahwa tekanan pada fiskal dan eksternal akan mereda dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan stabilnya laju perubahan kebijakan dan berkurangnya risiko implementasi,” ujarnya.
Meskipun terjadi volatilitas pasar yang tinggi, kata Yin, hal ini tidak akan mengakibatkan perubahan peringkat secara langsung jika terjadi pemulihan tren ekonomi dan fiskal yang mendasar.
"Namun, jika kami menilai bahwa memburuknya kondisi keuangan pemerintah atau kondisi eksternal Indonesia berlangsung lebih lama atau bersifat permanen, bukan hanya sementara, maka hal ini dapat meningkatkan risiko penurunan peringkat kredit Indonesia di masa depan," jelas dia.
(lav)






























