90 Mahasiswa Indonesia Siap Studi Magister di Eropa Lewat Erasmus

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sebanyak 90 mahasiswa Indonesia akan melanjutkan studi magister melalui program Erasmus Mundus Joint Master's (EMJM) pada tahun akademik 2026. Program beasiswa bergengsi yang didukung Uni Eropa tersebut kembali menjadi salah satu jalur pendidikan internasional yang diminati karena menawarkan pengalaman belajar lintas negara, kolaborasi akademik, serta pengembangan kompetensi global.
Dari total penerima tahun ini, sebanyak 78 mahasiswa berhasil memperoleh beasiswa penuh yang didanai Uni Eropa. Sementara itu, peserta lainnya memperoleh dukungan pembiayaan dari universitas penyelenggara, institusi mitra, maupun sektor swasta. Seluruh penerima akan mengikuti program studi di berbagai perguruan tinggi terkemuka di negara-negara anggota Uni Eropa maupun negara mitra.
Program Erasmus Mundus Joint Master's memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh pendidikan di sedikitnya dua negara selama masa studi. Model pembelajaran tersebut dirancang agar peserta memperoleh pengalaman akademik internasional sekaligus memahami keberagaman budaya dan memperluas jejaring profesional.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Denis Chaibi, mengatakan program Erasmus+ merupakan bentuk investasi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
"Saya menyampaikan selamat kepada seluruh penerima beasiswa Erasmus yang akan segera berangkat ke Eropa. Melalui program Erasmus+, kami bangga dapat berinvestasi dalam masa depan Indonesia. Para penerima beasiswa Erasmus+ merupakan generasi baru yang akan membangun pengetahuan, pengalaman internasional, serta jejaring yang berkelanjutan, sekaligus semakin mempererat hubungan antara Indonesia dan Eropa," ujar Chaibi.
Menurut Chaibi, pendidikan tinggi menjadi salah satu pilar penting dalam strategi Global Gateway Uni Eropa yang berorientasi pada penguatan inovasi, pengembangan keterampilan, serta transformasi hijau dan digital di berbagai negara mitra.
"Pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam strategi Global Gateway Uni Eropa, dengan mendorong inovasi serta pengembangan keterampilan yang mendukung transformasi hijau dan digital di seluruh dunia. Melalui Erasmus+, Uni Eropa terus mendukung pendidikan, pemberdayaan generasi muda, serta kerja sama akademik internasional," tambah Duta Besar Chaibi.
Erasmus Perkuat Kolaborasi Pendidikan Indonesia dan Uni Eropa
Selain menjadi jalur pendidikan internasional, Erasmus Mundus juga berperan memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan Uni Eropa. Program ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dalam lingkungan pembelajaran multikultural yang mendorong kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Salah satu penerima beasiswa tahun ini, Almira Rahma, mengungkapkan bahwa kesempatan mengikuti Erasmus Mundus memiliki arti lebih dari sekadar memperoleh bantuan pendidikan. Ia akan menempuh studi melalui program Copernicus Master in Digital Earth.
"Terpilih sebagai penerima beasiswa Erasmus Mundus bukan hanya tentang mendapatkan pendanaan pendidikan. Hal ini merupakan kesempatan untuk berkembang secara akademik, profesional, dan personal. Meskipun kami berasal dari berbagai latar belakang dan bidang studi, kami memiliki komitmen yang sama untuk terus belajar, memberikan kontribusi, dan membawa nama Indonesia di tingkat global," imbuhnya.
Almira merupakan pegawai Badan Informasi Geospasial (BIG) yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Keberhasilannya menjadi salah satu penerima beasiswa mencerminkan semakin luasnya peluang bagi talenta Indonesia untuk mengakses pendidikan berkualitas di tingkat internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia juga meluncurkan EU Youth Alumni Circle Indonesia, sebuah platform yang dirancang untuk memperkuat jejaring alumni berbagai program kerja sama Uni Eropa di seluruh dunia.
Platform tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para alumni untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, memperluas kolaborasi, serta mengembangkan berbagai inisiatif yang mendukung hubungan antara Uni Eropa dan negara-negara mitra, termasuk Indonesia.
Keberadaan jaringan alumni dinilai penting karena dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, inovasi, dan pengalaman profesional setelah peserta menyelesaikan pendidikan mereka. Selain itu, alumni diharapkan mampu menjadi penghubung kerja sama akademik, penelitian, maupun pengembangan kapasitas antara Indonesia dan Uni Eropa.
Program Erasmus Mundus Joint Master's sendiri merupakan salah satu program unggulan Erasmus+, yaitu inisiatif Uni Eropa di bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, dan olahraga. Program ini diselenggarakan oleh konsorsium perguruan tinggi dari berbagai negara yang bekerja sama dalam menyediakan kurikulum berstandar internasional.
Mahasiswa yang mengikuti EMJM diwajibkan menempuh studi di sedikitnya dua negara berbeda selama masa pendidikan. Setelah lulus, peserta umumnya memperoleh gelar bersama (joint degree) atau gelar ganda (multiple degrees), tergantung pada konsorsium universitas penyelenggara.
Melalui pendekatan tersebut, EMJM bertujuan mendorong keunggulan akademik, memperkuat kerja sama internasional, sekaligus meningkatkan pemahaman lintas budaya. Lulusan program ini diharapkan memiliki kompetensi global yang mampu menjawab berbagai tantangan di bidang ekonomi, teknologi, lingkungan, maupun pembangunan berkelanjutan.
Program Erasmus juga menjadi bagian dari strategi Global Gateway, yaitu inisiatif Uni Eropa yang diluncurkan pada 2021 untuk memperkuat konektivitas global di sektor digital, energi, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan penelitian melalui investasi berkualitas yang berkelanjutan.
Bagi mahasiswa Indonesia yang berminat mengikuti program serupa, proses pendaftaran Erasmus Mundus Joint Master's untuk tahun akademik 2027/2028 dijadwalkan mulai dibuka pada September hingga Oktober 2026. Hasil seleksi diperkirakan akan diumumkan pada Mei atau Juni 2027.
Melalui peningkatan jumlah penerima beasiswa serta penguatan jejaring alumni, Uni Eropa berharap kerja sama pendidikan tinggi dengan Indonesia semakin berkembang. Program Erasmus tidak hanya membuka akses terhadap pendidikan internasional, tetapi juga membangun generasi muda yang memiliki kompetensi global, jejaring internasional, serta kapasitas untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional dan mempererat hubungan Indonesia dengan Uni Eropa.































