Logo Bloomberg Technoz

Ditentukan Selisih

Meskipun begitu, Ishak menegaskan margin keuntungan kilang Pertamina ditentukan oleh selisih harga minyak mentah dengan harga jual produk yang mengacu Mean of Plats Singapore (MOPS) ditambah sejumlah faktor lainnya.

Selain itu, sebagian minyak mentah yang diolah bakal menjadi produk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sehingga selisih harga internasional dengan harga jual BBM subsidi ditanggung oleh pemerintah.

“Bagi KPI, yang perlu diwaspadai adalah menjaga keandalan operasional agar tidak ada gangguan produksi, mengoptimalkan strategi pengadaan crude, dan mempercepat proyek peningkatan kompleksitas kilang agar lebih tahan terhadap tekanan margin ke depan,” ujar Ishak.

Adapun, Pertamina mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat subholding hilir PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Saat ini, Pertamina  mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.

Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170.000 bph, RU III Plaju berkapasitas 126.000 bph, RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph, RU V Balikpapan berkapasitas 360.000 bph, RU VI Balongan berkapasitas 150.000 bph, dan RU VII Kasim berkapasitas 10.000 bph.

Harga minyak telah menguat bulan ini karena permusuhan antara AS dan Iran meningkat di Teluk Persia, menghambat lalu lintas melalui Selat Hormuz dan memperlambat aliran minyak mentah dan gas alam cair.

Serangan pertama terhadap kapal tanker Arab Saudi oleh militan Houthi yang didukung Iran di Laut Merah telah meningkatkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang lebih dalam di seluruh wilayah tersebut.

Pasar juga menghadapi serangan di terminal Caspian Pipeline Consortium di pantai Laut Hitam Rusia, yang mengekspor sebagian besar minyak Kazakhstan.

Persediaan global telah menipis akibat konflik berbulan-bulan di Timur Tengah, meningkatkan risiko kekurangan pasokan dan guncangan ekonomi yang lebih luas.

Harga Brent untuk pengiriman September turun menjadi US$96,68/barel pada pukul 17:25 WIB setelah melonjak 7% menjadi di atas US$100/barel pada sesi sebelumnya. Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turun 3,5% menjadi US$88,93/barel.

(azr/wdh)

No more pages