Dia juga menilai kenaikan harga kedelai di pasar global akibat memanasnya tensi geopolitik belum sepenuhnya diteruskan ke harga jual dalam negeri. Menurutnya, importir masih menahan kenaikan harga sehingga harga kedelai belum menyentuh HAP.
Karena itu, Wibowo berharap pemerintah mengevaluasi ketentuan HAP apabila memang ingin memastikan subsidi dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha tahu dan tempe saat harga bahan baku mengalami tekanan.
"Kalau menaikkan harga, nanti subsidi keluar. Kalau subsidi keluar, bukannya nanti yang dibeli barangnya harus [langsung lewat] importir, tidak. Jaringan bisnisnya mereka akan terganggu dengan jaringan koperasi. Dengan subsidi ini kan koperasi dilewatkannya. Bulog, koperasi yang menyerap, [baru ke] anggotanya koperasi, itu situasinya," jelasnya.
Di sisi lain, ia memastikan pengrajin belum berencana menaikkan harga tahu dan tempe kepada konsumen. Sebagai catatan saja, berdasarkan data Gakoptindo, rata-rata harga penjualan tempe berada dikisaran harga Rp5.000.
Bahkan kata Wibowo sejak 2022, pelaku usaha memilih menyiasati kenaikan biaya produksi dengan memperkecil ukuran produk dan menekan margin keuntungan.
"Jadi nggak mungkin naikkan harga. Jalannya adalah mengurangi ukuran dan mengurangi keuntungan," tuturnya.
Sebelumnya, Pemerintah resmi memberikan subsidi kepada produsen atau pengrajin tahu dan tempe sebagai bagian dari pemberian paket stimulus masyarakat selama periode semester kedua tahun ini.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemberian subsidi diberikan sebesar Rp2.000/Kg dari setiap produksi dengan kuota hingga mencapai 250.000 ton.
Airlangga mengatakan, pemberian subsidi tersebut dilakukan apabila harga kedelai, sebagai bahan bakunya, mengalami kenaikan dari harga acuan yang ditentukan oleh pemerintah. Saat ini, kebutuhan kedelai dalam negeri mencapai sekitar 2,5 juta ton yang seluruhnya masih diimpor.
Program tersebut, kata dia, juga telah mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah antisipasi lonjakan biaya produksi pengrajin imbas kenaikan harga kedelai beberapa waktu lalu karena ketegangan konflik geopolitik Timur Tengah.
"Kita ketahui kita beli kebutuhannya adalah 2,5 juta ton per tahun, namun kita siapkan 250 ribu dengan subsidi Rp2 ribu per kilogram yang nantinya akan diberikan apabila harga kedelainya di atas harga acuan pembelian," ujarnya, belum lama ini.
(ain)
































