Kendati begitu, BMI juga mencatat mencermati tergerusnya permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik yakni nickel manganese cobalt (NMC) gegara tingginya permintaan baterai lithium iron phosphate (LFP).
“Kami mencatat bahwa dominasi baterai NMC menghadapi tantangan yang makin besar dari kimia baterai yang sedang berkembang, terutama LFP,” tegasnya.
Risiko Pasar
Bagaimanapun, BMI tetap melihat terdapat sejumlah risiko yang dapat menekan kenaikan harga maupun membantu kenaikan harga nikel.
Dari sisi kenaikan, pengetatan produksi bijih nikel di Indonesia berpotensi mendorong harga naik.
BMI juga mencermati pembatasan operasi smelter di luar Indonesia bakal memberikan tambahan dukungan kenaikan harga.
Dari sisi penurunan, BMI menilai produksi yang lebih tinggi dari perkiraan di produsen utama, yaitu China dan Indonesia, dapat membuat harga tetap tertekan lebih lama.
Selain itu, BMI mencermati eskalasi geopolitik di Timur Tengah dapat menyebabkan risiko yang beragam bagi harga nikel.
Di satu sisi, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan terhadap operasional smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia sebab pasokan sulfur berasal dari Timur Tengah, sehingga menimbulkan risiko harga.
.“Sebaliknya, tekanan makroekonomi yang lebih luas—terutama perlambatan pertumbuhan dan kondisi keuangan yang lebih ketat—menjadi risiko penurunan terhadap permintaan,” ungkap BMI.
Untuk itu, BMI menegaskan dalam jangka panjang Indonesia tetap menjadi sumber ketidakpastian terbesar bagi pasar nikel olahan.
BMI menilai kecepatan peningkatan kapasitas nikel olahan akan menentukan pasokan pasar global dalam satu dekade mendatang.
“Perkembangan baterai kimia juga menambah lapisan ketidakpastian, dengan potensi mengubah pola permintaan nikel di sektor energi bersih,” tegas BMI.
Nikel diperdagangkan di harga US$16.961/ton pada di London Metal Exchange (LME) hari ini, anjlok 1,11% dari penutupan Jumat.
Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah di bawah US$14.000/ton dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut BMI.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
Proyeksi harga dan permintaan nikel dunia versi BMI:
2026
- Harga nikel rata-rata: US$17.000/ton
- Pertumbuhan harga: 12,1%
- Produksi: 3.833.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 1,9%
- Konsumsi: 3.679.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 4,5%
- Neraca produksi (surplus): 154.000 ton
2027
- Harga nikel rata-rata: US$16.700/ton
- Pertumbuhan harga: -1,8%
- Produksi: 4.054.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 5,7%
- Konsumsi: 3.897.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 5,9%
- Neraca produksi (surplus): 156.000 ton
2028
- Harga nikel rata-rata: US$17.000/ton
- Pertumbuhan harga: 1,8%
- Produksi: 4.310.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 6,3%
- Konsumsi: 4.149.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 6,5%
- Neraca produksi (surplus): 161.000 ton
2029
- Harga nikel rata-rata: US$17.500/ton
- Pertumbuhan harga: 2,9%
- Produksi: 4.592.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 6,5%
- Konsumsi: 4.457.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 7,4%
- Neraca produksi (surplus): 134.000 ton
2030
- Harga nikel rata-rata: US$19.000/ton
- Pertumbuhan harga: 8,6%
- Produksi: 4.893.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 6,6%
- Konsumsi: 4.884.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 9,6%
- Neraca produksi (surplus): 8.000 ton
2031
- Harga nikel rata-rata: US$21.500/ton
- Pertumbuhan harga: 13,2%
- Produksi: 5.199.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 6,3%
- Konsumsi: 5.368.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 9,9%
- Neraca produksi (defisit): 168.000 ton
2032
- Harga nikel rata-rata: US$22.000/ton
- Pertumbuhan harga: 2,3%
- Produksi: 5.628.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 8,2%
- Konsumsi: 5.873.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 9,4%
- Neraca produksi (defisit): 244.000 ton
2033
- Harga nikel rata-rata: US$21.800/ton
- Pertumbuhan harga: -0,9%
- Produksi: 6.107.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 8,5%
- Konsumsi: 6.360.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 8,3%
- Neraca produksi (defisit): 252.000 ton
2034
- Harga nikel rata-rata: US$21.800/ton
- Pertumbuhan harga: 0,0%
- Produksi: 6.614.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 8,3%
- Konsumsi: 6.849.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 7,7%
- Neraca produksi (defisit): 235.000 ton
2035
- Harga nikel rata-rata: US$21.500/ton
- Pertumbuhan harga: -1,4%
- Produksi: 7.145.000 ton
- Pertumbuhan produksi: 8,0%
- Konsumsi: 7.385.000 ton
- Pertumbuhan konsumsi: 7,8%
- Neraca produksi (defisit): 240.000 ton
(wdh)
































