Penguatan terjadi pada ringgit ditopang oleh data pertumbuhan ekonomi Malaysia kuartal II-2026 yang melonjak di luar perkiraan. Melansir data Bloomberg, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,8% secara tahunan pada periode April-Juni. Angka ini melampaui median proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg yang sebesar 5,2%.
Dengan begitu, secara kumulatif, ekonomi Malaysia tumbuh 5,6% pada semester I-2026, meningkat dibandingkan 4,5% pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini yang mengerek performa ringgit melampaui rekan-rekan mata uang lainnya di kawasan.
Sementara bagi rupiah, pekan ini menjadi pekan penentu stabilitas nilai tukarnya. Rupiah diperkirakan akan lebih stabil dalam beberapa bulan ke depan lantaran Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan terus mendukung penguatan rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini, BI dinilai akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%.
Melansir Bloomberg News, rupiah berpotensi menguat ke sekitar Rp17.850/US$ pada kuartal III-2026. Prediksi ini datang dari Credit Agricole CIB yang menilai tanda-tanda pemulihan rupiah sudah terlihat dengan adanya penguatan 1,3% sejak sempat menyentuh rekor terlemahnya di Rp18.190/US$ bulan lalu.
Di saat yang sama, volatilitas implisit tiga bulan antara dolar AS dan rupiah turun 115 bps menjadi 6,78% dari sebelumnya 7,93%, mencerminkan menurunnya ketidakpastian dalam jangka pendek. Hal ini membuat rupiah berpotensi bergerak menguat hingga Rp17.800/US$, menurut Bank Julius Baer, seperti dikutip Bloomberg News.
Meski prospek jangka pendek mulai membaik, arah pergerakan rupiah masih akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal.
Pasar akan mencermati hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, perkembangan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang dapat menekan fiskal RI, hingga keputusan penyedia indeks global terkait klasifikasi pasar saham Indonesia.
Di saat yang sama, arah kebijakan Federal Reserve serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal dan memulihkan kepercayaan investor akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah penguatan rupiah dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan dalam beberapa bulan mendatang.
(riset/aji)




























