Konflik di Timur Tengah yang kembali memanas menjadi sebab koreksi harga sang logam mulia. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali bersitegang, seolah gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya tidak ada artinya.
Bloomberg News mengabarkan, AS menyerang pelabuhan di Iran sampai mengenai sebuah kapal tanker minyak. Presiden AS Donald Trump sudah menyebut bakal mengintensifkan serangan sampai Iran berhenti mengganggu kapal yang melewati Selat Hormuz dan setuju membuka jalur pelayaran tersebut.
Namun Teheran tidak tinggal diam. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania.
“Selama AS tidak menerima sistem hukum Iran, maka Selat Hormuz akan tetap ditutup,” tegas Juru Bicara Angkatan Darat Iran, sebagaimana Bloomberg News mengutip dari kantor berita semi-resmi Iranian Students’ News Agency.
Tensi yang meninggi di Timur Tengah membuat harga minyak terangkat. Harga minyak jenis brent kini betah bertahan di atas US$ 80/barel.
Apabila harga energi terus tinggi, maka dunia akan dihantui ancaman inflasi. Ini akan membuat bank sentral di berbagai negara harus mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)































