OPPO mengambil langkah-langkah ini mengingat tantangan keuangan dalam bisnis ponselnya serta kurangnya momentum di AS, Eropa, dan India.
Ada juga kekhawatiran geopolitik terkait penjualan ponsel merek China di AS serta gugatan hukum yang diajukan Apple Inc. terkait rahasia dagang.
Sebagai bagian dari perubahan tersebut, OPPO akan memfokuskan upayanya di Eropa Tengah dan pada penjualan perangkat Realme di kawasan Nordik, yang mencakup Finlandia, Denmark, Swedia, dan Islandia. Oppo telah meraih kesuksesan yang lebih besar di wilayah tersebut.
Dulu sebagai pendatang baru yang ramai dibicarakan dan mendapat pujian dari penggemar teknologi serta penggemar Android, pengaruh OnePlus di pasar smartphone telah berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Di AS, Apple dan Samsung Electronics Co. terus mendominasi pangsa pasar, sementara OnePlus tertinggal jauh di belakang pesaing yang lebih kecil seperti Motorola milik Lenovo Group Ltd. dan Google milik Alphabet Inc.
OPPO tampil lebih baik di China, berada di belakang pemimpin pasar Huawei Technologies Co. dan Apple. Namun, melonjaknya biaya memori dan harga ponsel telah menyebabkan perlambatan penjualan smartphone.
Pengiriman ponsel di China turun 4,3% pada kuartal kedua dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, demikian menurut laporan IDC pada hari Selasa.
Kekurangan komponen juga membuat produsen ponsel semakin sulit mengembangkan model-model berbiaya rendah, yang sebelumnya menjadi fokus dari jajaran produk “Nord” milik OnePlus.
Berbagai smartphone OnePlus generasi awal mendapat ulasan positif berkat perpaduan antara performa yang mumpuni, interface software yang ringkas, dan harga yang terjangkau. Perangkat kelas atas terbaru perusahaan ini, OnePlus 15, mengalami peluncuran yang tidak mulus di AS karena tertunda akibat penutupan pemerintah tahun lalu.
(bbn)




























