“Sudah selesai, sudah selesai [pembebasan lahannya]. Tunggu ya info groundbreaking-nya,” kata Laode, di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).
Laode mengungkapkan Blok Masela ditargetkan mulai berproduksi atau onstream pada 2029 dan dijadwalkan dilakukan pembangunan pada Juli 2026.
“Saya pikir Pak Menteri sudah pernah mengumumkan nih, pada 2030-an ya, 2029-2030 ya, 2029 ya [onstream] sudah mengumumkan dan insyaallah pada Juli ini, awal Juli itu juga ada groundbreaking,” tutur Laode.
Di sisi lain, Inpex Masela Ltd. telah meneken perjanjian pengembangan proyek dan kontrak komersial di Lapangan Gas Abadi, Blok Masela dengan tiga badan usaha milik negara (BUMN).
Tiga BUMN yang dimaksud yakni; PT PLN (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), serta PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) atau PGN.
Kala itu, Djoko mengungkapkan total kapasitas produksi gas dari Blok Masela mencapai sekitar 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 MMSCFD telah dialokasikan untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
“Masela itu kan sekitar total 1.200-an [MMSCFD], masih ada spare 250 [MMSCFD] yang untuk kalau kita butuh untuk nanti kita bikin apa lagi. Akan tetapi, yang lain sudah; dalam negeri dan luar negeri sudah. 1.000-an MM per hari sudah,” ujar Djoko kepada awak media, di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).
Untuk industri pupuk, penyaluran gas akan dilakukan melalui pipa, sedangkan sebagian volume lainnya akan dipasarkan dalam bentuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Djoko menambahkan salah satu pembeli LNG dari Blok Masela berasal dari Jepang dengan permintaan mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta ton per tahun (mtpa).
Selain itu, kata Djoko, terdapat pembeli lain dari perusahaan internasional; Eni SpA hingga BP Plc—tetapi dia belum mengungkapkan volume permintaannya.
“Selain Jepang ada juga, ada dua, Eni Spa, BP trader,” katanya.
Untuk diketahui, Lapangan Abadi Masela atau disebut juga proyek LNG Abadi adalah salah satu proyek strategis nasional (PSN) sekaligus proyek hulu migas terbesar di Indonesia saat ini.
Berlokasi di Laut Arafura, Provinsi Maluku, investasi proyek ini bernilai sekitar US$20 miliar atau setara Rp330 triliun.
Lapangan Abadi diklasifikasikan sebagai giant gas field (lapangan gas raksasa) karena memiliki area sebaran lebih dari 1.000 km persegi dengan total cadangan gas mencapai 10 triliun kaki kubik (TCF) hingga lebih dari 18 TCF.
Saat ini, proyek Blok Masela digarap oleh konsorsium yang terdiri dari tiga perusahaan migas raksasa, yaitu Inpex Corporation dari Jepang melalui anak usahanya, Inpex Masela Ltd yang memiliki saham sebesar 65% atau sebagai operator utama.
Lalu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memegang 20% saham, setelah mengakuisisi sebagian hak partisipasi (participating interest) yang sebelumnya dipegang oleh Shell, serta pihak ketiga Petronas Masela Sdn Bhd dari Malaysia yang memegang 15% saham.
-- Dengan asistensi Dovana Hasiana
(azr/wdh)
































