Di Indonesia, inflasi umum naik menjadi 3,34% secara tahunan pada Juni dari 3,08% pada Mei. Di India, inflasi kembali naik menjadi 4,4% secara tahunan, bahkan angka ini melampaui target bank sentral India yang sebesar 4%.
Sinyal serupa mulai terlihat di negara Asia lainnya. Di Thailand, inflasi memang melambat jadi 2,4% pada Juni. Namun, otoritas setempat tetap mengingatkan bahwa kenaikan harga energi global serta gangguan produksi pangan akibat El Nino berpontesi membalikkan tren perlambatan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Prospek inflasi ini membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran moneter di kawasan. Jika harga minyak bertahan tinggi dan tekanan harga pangan terus melonjak, maka ruang bagi bank sentral di kawasan ini untuk memangkas suku bunga jadi kian menyempit. Terlebih, pergerakan mata uang di kawasan masih melanjutkan tren pelemahan.
Bagi rupiah, tekanan yang terjadi dari sisi eksternal diperparah dengan kondisi defisit yang berpotensi kembali melebar akibat meningkatnya inflasi impor. Kondisi ini tentu saja semakin mempersempit ruang Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Rupiah masih terbebani oleh twin deficit terdiri dari desifit fiskal dan transaksi berjalan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencatat kenaikan pengeluaran sebesar 17,8% secara tahunan menjadi Rp1.656 triliun atau setara 43,1% dari pagu. Akselerasi belanja pemerintah pusat yang mencapai 29,4% secara tahunan menjadi pendorong utama, termasuk kenaikan belanja kementerian dan lembaga sebesar 40%.
Namun, menurut Samuel Sekuritas dalam catatannya, peningkatan belanja tersebut masih didominasi oleh pengeluaran yang kurang produktif, seperti pemberian bonus hari raya bagi aparatur sipil negara, gaji ke-13, serta lonjakan belanja subsidi sebesar 44% untuk meredam dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
"Meski defisit anggaran hingga pertengahan tahun baru mencapai 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah dalam revisi proyeksi APBN memperkirakan defisit sepanjang 2026 akan melebar menjadi 2,85% PDB, atau sekitar Rp734,3 triliun, melampaui target awal APBN yang ditetapkan sebesar 2,68%," kata Samuel Sekuritas dalam laporannya.
Samuel Sekuritas menambahkan, konsentrasi penyaluran belanja pada paruh kedua tahun ini berpotensi memicu inefisiensi hambatan birokrasi dalam penyerapan anggaran, serta mempercepat pengurasan Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang selama ini menjadi bantalan fiskal pemerintah.
(dsp/aji)






























