Sepertinya pemerintah mengubah komposisi untuk menyesuaikan dengan preferensi investor di tengah naiknya volatilitas pasar keuangan global. Selain itu, peringkat utang Indonesia yang bertahan di level investment grade alias layak investasi dengan outlook stabil dari S&P Ratings telah memberikan sentimen positif bagi aset berdenominasi rupiah, khususnya pasar obligasi pemerintah.
Namun, tantangan pemerintah dalam lelang kali ini diperkirakan lebih besar daripada dua pekan lalu. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Selat Hormuz mendorong investor global mengalikan dana ke aset safe haven seperti dolar AS, dan obligasi pemerintah AS.
Tekanan ini tercermin pada pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) yang sempat mendekati Rp18.200/US$ pada sesi perdagangan pagi. Pelemahan mata uang, biasanya dapat meningkatkan permintaan yield oleh investor sebagai kompensasi atas risiko nilai tukar yang lebih tinggi.
Sebagai catatan, dalam lelang sukuk sebelumnya penawaran yang masuk mencapai Rp15,91 triliun, atau sekitar 1,59 kali dari target indikatif Rp10 triliun. Pemerintah menyerap dana sesuai target Rp10 triliun, dengan mayoritas alokasi pada seri tenor pendek hingga menengah.
Rinciannya, pemerintah memenangkan senilai Rp4,1 triliun pada seri SPNS01032027, Rp2,45 triliun pada PBS040 (5 tahun), Rp2,25 triliun pada PBS030 (2 tahun), serta masing-masing Rp600 miliar pada SPNS10082026 (2 bulan) dan PBS034 (13 tahun).
Sebaliknya, tidak ada alokasi yang dimenangkan untuk seri PBS005 (17 tahun) maupun PBS038 (23 tahun), mengindikasikan minat investor terhadap obligasi syariah bertenor sangat panjang masih relatif terbatas. Sehingga dalam lelang hari ini seri tersebut diganti dengan seri PBSG002 (7 tahun).
(dsp/aji)






























