Jika dilihat berdasarkan basis kuartalan yang disesuaikan secara musiman, ekonomi Singapura tumbuh 1,1%, sedikit di bawah estimasi median jajak pendapat Bloomberg yang memproyeksikan angka 1,3%.
Sebelumnya pada bulan Juni, Perdana Menteri Lawrence Wong telah memperingatkan bahwa perekonomian negara tersebut belum merasakan dampak sepenuhnya dari perang, dan ketidakpastian masih menyelimuti prospek pertumbuhan serta inflasi nasional. Kenaikan harga energi global juga diperkirakan mulai membebani sektor rumah tangga, di mana tarif listrik bersiap naik hingga mencetak rekor sebesar 17% pada kuartal ketiga.
Pada Mei lalu, pihak MTI menyatakan bahwa mereka memproyeksikan PDB sepanjang tahun ini akan berekspansi di kisaran 2% hingga 4%, turun dari capaian tahun lalu sebesar 5%. Adapun angka final untuk pertumbuhan ekonomi kuartal kedua dijadwalkan rilis pada Agustus mendatang.
Sementara itu, Otoritas Moneter Singapura (MAS) akan menentukan arah kebijakan moneternya paling lambat pada 31 Juli. Sebagian besar ekonom memproyeksikan bank sentral akan mempertahankan kebijakan saat ini, menyusul rilis data inflasi bulan Mei yang cenderung jinak.
(bbn)

































