Gelombang serangan terbaru yang saling berbalas antara AS dan Iran ini telah memupus harapan akan adanya normalisasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu dekat. Eskalasi konflik ini menambah ketidakpastian baru menjelang pekan krusial bagi pasar finansial. Pasalnya, musim rilis laporan keuangan perusahaan akan segera dimulai bersamaan dengan keluarnya data inflasi AS serta kesaksian Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres, yang keduanya dinilai menjadi kunci bagi arah kebijakan suku bunga ke depan.
“Sektor energi sekali lagi berada di bawah sorotan tajam karena kondisi di Selat Hormuz menjadi motor penggerak pergerakan harga di pasar global,” kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets. “Ada kekhawatiran yang kian membesar bahwa situasi ini kemungkinan akan memburuk terlebih dahulu sebelum akhirnya mereda.”
Ketegangan geopolitik ini memuncak di saat para investor mulai mempertanyakan apakah dana dalam jumlah luar biasa besar yang digelontorkan ke sektor kecerdasan buatan (AI) akan mampu menghasilkan laba yang sepadan.
Aksi jual massal saham berbasis AI di Korea Selatan pada hari Senin telah merembet ke pasar AS, mempertegas kecemasan bahwa tren booming teknologi ini sudah melangkah terlalu jauh. Kejatuhan pada indeks Kospi menjadi sinyal terbaru betapa fluktuatifnya pasar saham Korea saat ini, setelah reli panjang sektor AI sebelumnya sempat mencatatkan kinerja yang jauh melampaui bursa saham global lainnya.
“Ketidakpastian di sekitar Timur Tengah terus berlanjut, tetapi kami menilai gelombang AI inilah yang akan menggerakkan pasar selama beberapa pekan ke depan, terlebih saat musim rilis laporan keuangan dimulai,” ujar Sonu Varghese dari Carson Group.
Para investor kini mengalihkan fokus mereka pada data inflasi AS setelah Waller memberi sinyal bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat jika inflasi inti terus menunjukkan tekanan harga yang luas.
Berdasarkan survei ekonom oleh Bloomberg, Indeks Harga Konsumen (IHK) dalam data yang dirilis hari Selasa ini diperkirakan melambat ke angka 3,8% secara tahunan hingga Juni, turun dari posisi 4,2% di bulan Mei.
Di sisi lain, Kevin Warsh juga bersiap melakukan penampilan perdananya di hadapan Kongres sejak menjabat sebagai Gubernur The Fed.
“Jika kita kembali mendapati angka inflasi inti yang tinggi pekan ini, maka FOMC perlu mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat,” tegas Waller pada hari Senin lalu, merujuk pada komite penetapan suku bunga bank sentral tersebut.
Pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3% pada pukul 09.06 waktu Tokyo.
- Kontrak berjangka Hang Seng turun 0,2%.
- Indeks Topix Jepang turun 0,4%.
- Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,3%.
- Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 relatif tidak berubah.
Mata uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif stabil.
- Euro stagnan di level US$1,1383.
- Yen Jepang stabil di level 162,42 per dolar AS.
- Yuan offshore relatif tidak berubah di level 6,7846 per dolar AS.
Kripto
- Bitcoin naik 0,1% menjadi US$62.240,49.
- Ether naik 0,4% menjadi US$1.773,45.
Obligasi
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun relatif stabil di 4,62%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun tetap di 2,790%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik lima basis poin menjadi 4,91%.
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,7% menjadi US$79,45 per barel.
- Harga emas spot turun 0,2% menjadi US$3.993,11 per troy ounce.
Artikel ini diproduksi dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)































