Bursa Asia Melemah di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
News
14 July 2026 07:59

Isabelle Chong - Bloomberg News
Bloomberg, Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan, sementara bursa saham Asia melemah akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian meningkat. Situasi ini memicu kekhawatiran global bahwa gangguan pada pasokan energi dapat mempercepat laju inflasi.
Harga minyak mentah jenis Brent menanjak 1,6% ke kisaran US$84,65 per barel. Komoditas ini sebelumnya sempat meroket 9,6% pada hari Senin—mencatat kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020—setelah Donald Trump kembali memberlakukan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz, serta mewajibkan seluruh kargo lain yang melewati jalur tersbeut membayar biaya sebesar 20%.
Indeks acuan saham Asia Pasifik MSCI terpantau melemah 0,6%, di mana Indeks Kospi Korea Selatan memimpin penurunan dengan anjlok hingga 2,7%. Sektor produsen cip komputer tetap menjadi sorotan setelah saham American depositary milik SK Hynix Inc jatuh 9,3%, seiring aksi jual massal saham-saham berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) di Korea Selatan yang merembet ke pasar AS. Kontrak berjangka (futures) indeks saham AS juga dilaporkan bergerak mundur.
Pada hari Senin, obligasi pemerintah AS (Treasury) kompak melemah di seluruh tenor karena para pelaku pasar meningkatkan pertaruhan mereka pada kenaikan suku bunga di tengah lonjakan harga minyak. Pasar uang kini memperkirakan peluang sekitar 50% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan Juli ini. Hal itu terjadi setelah Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan bahwa para pejabat mungkin perlu mengerek suku bunga guna menjinakkan tekanan harga. Di sisi lain, harga emas dan perak bergerak turun, sedangkan indeks dolar versi Bloomberg mencatat kenaikan tertinggi sejak 23 Juni.
































