IHSG menjadi yang teratas dan juara satu di Bursa Asia. KLCI (Malaysia), SETI (Thailand), Hang Seng (Hong Kong), TW Weighted Index (Taiwan), dan Straits Times (Singapura), yang berhasil menguat masing–masing 0,41%, 0,39%, 0,16%, 0,06%, dan 0,02%.
Sementara itu, jauh di sisi berseberangan dengan IHSG, KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), Shanghai Composite (China), NIKKEI 225 (Jepang), CSI 300 (China), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Topix (Jepang), PSEI (Filipina), dan SENSEX (India), yang melemah dan tertekan 8,95%, 4,55%, 4,01%, 2,06%, 1,92%, 1,79%, 1,52%, 0,71%, 0,33%, dan 0,03%.
Penyebab IHSG Menguat
Sejumlah saham menjadi pendorong IHSG melesat pada penutupan perdagangan hari ini. Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham perindustrian mencatatkan penguatan paling luar biasa, dengan masing–masing melesat mencapai 2,96%, 2,65% dan 2,44%.
Berdasarkan data Bloomberg, penguatan IHSG di zona hijau tak lepas dari kenaikan sejumlah saham big caps terutama saham Bank Mandiri (BMRI) dan juga saham Bank BRI (BBRI) yang menopang penuh hijaunya IHSG.
Saham BMRI berhasil menguat 170 poin atau mencapai 4,16% di level Rp4.250/saham usai sebanyak 140 juta saham ditransaksikan. Adapun nilai transaksi saham BMRI sepanjang hari ini mencapai Rp582 miliar.
Yang juga sama potensialnya, saham BRI mencatatkan kenaikan 80 poin dengan menguat 2,86% hingga ditutup di posisi Rp2.870/saham. Nilai transaksi jual–beli saham BBRI mencapai 211 juta saham dengan nilai Rp597 miliar.
10 saham teratas yang menopang IHSG, berdasarkan data Bloomberg, Senin.
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyumbang 13,96 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyumbang 11,74 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 11,43 poin
- PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyumbang 8,04 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyumbang 7,58 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 4,43 poin
- PT United Tractors Tbk (UNTR) menyumbang 4,17 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menyumbang 4,16 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 3,74 poin
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyumbang 3,64 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 lainnya turut menjadi pendorong penguatan IHSG, saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) melejit 4,44% dan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga melesat 3,98%. Sama halnya, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga lompat hingga 3,52%.
Melesatnya IHSG pada penutupan perdagangan hari ini tersengat sentimen positif yang datang dari laporan terbaru S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook untuk peringkat jangka panjang tetap stabil.
Menurut S&P Global Ratings, sentimen pelemahan posisi fiskal dan eksternal Indonesia yang disebabkan karena tingginya biaya energi, suku bunga yang lebih tinggi, dan pelemahan nilai tukar hanya bersifat sementara.
Lembaga rating itu memproyeksikan Indonesia dapat meredam dampak kenaikan harga komoditas tersebut melalui pengurangan belanja pemerintah.
“Kami menegaskan peringkat kredit jangka panjang Indonesia di level BBB dan peringkat kredit jangka pendek di A-2,” melansir keterangan resmi S&P, Senin.
“Outlook stabil juga mencerminkan ekspektasi kami bahwa pemerintah tetap memandang batas defisit anggaran tahunan sebesar 3% dari PDB sebagai jangkar kebijakan fiskal yang penting,” dalam dari keterangan yang sama.
Dengan itu, Phintraco Sekuritas menyebut, laporan S&P Global Ratings mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, kebijakan fiskal yang prudent, dan kredibilitas kebijakan moneter.
“S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat dibanding negara dengan peringkat serupa, meskipun masih menghadapi tantangan dari ketidakpastian global, pelemahan nilai tukar, dan volatilitas pasar keuangan,” papar Phintraco.
Bagi pasar modal, dipertahankannya peringkat BBB dengan outlook Stable menjadi sentimen positif, mencerminkan terjaganya persepsi risiko Indonesia di mata investor global.
“Hal ini berpotensi mendukung arus masuk modal asing, menjaga stabilitas pasar obligasi pemerintah, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik,” terang Phintraco dalam catatan terbarunya.
(fad)




























