Sejumlah saham LQ45 menjadi penopang penguatan IHSG, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melesat 3,48%, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menguat 3,41%, dan saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) terapresiasi 2,39%.
Tren bullish juga terjadi pada saham LQ45 PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) terbang 1,74%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melesat 1,51%, dan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menguat 1,22%.
Adapun Bursa Asia siang hari ini juga berfluktuatif. Bursa Saham KLCI (Malaysia), Hang Seng (Hong Kong), PSEi (Filipina), TW Weighted Index (Taiwan), dan SETI (Thailand) yang berhasil menguat.
Sementara itu, KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), CSI 300 (China), Topix (Jepang), Straits Times (Singapura), dan SENSEX (India), yang masih tergelincir di zona merah siang hari ini.
Menyitir Panin Sekuritas, penguatan IHSG pada perdagangan siang hari ini rasanya mengesampingkan sentimen risk–off di pasar global di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Eskalasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global,” papar Panin dalam catatannya siang hari ini, Senin.
Terlebih lagi Timur Tengah terus memanas setelah aksi serangkaian serangan militer AS dan Iran, di mana Iran menyatakan saat ini tidak mungkin kapal untuk transit di Selat Hormuz, karena adanya pergerakan yang ilegal dari militer AS.
Adapun kabar terbaru dari media Al Jazeera mengatakan, pasukan IRGC telah menyerang fasilitas pemeliharaan helikopter serta sistem pertahanan udara militer AS di Kuwait dan Bahrain.
“Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang mendorong kenaikan harga minyak serta tekanan inflasi lanjutan.”
Di dalam negeri, pasar mencermati kondisi fiskal yang relatif resilient, tercermin dari defisit APBN sekitar 0,76% sehingga meredam kekhawatiran terhadap potensi penurunan sovereign rating. Namun, pasar juga mewaspadai risiko tata kelola domestik di tengah penegakan anti-korupsi yang semakin intensif.
(fad)
































