Melihat hasil tersebut, Eniya menegaskan bahwa kualitas bahan bakar B50 saat ini sudah berada di atas spesifikasi standar yang ditetapkan oleh pabrikan. Oleh karena itu, ia mendorong agar industri komponen dan suku cadang lokal dapat segera beradaptasi.
"Kualitasnya justru di atas spek pabrikan, sehingga industri komponen atau spare part yang harus berinovasi menyesuaikan diri, bukan malah mengeluh," tegas Eniya.
Eniya juga menjelaskan bahwa B50 juga telah diuji langsung pada sektor transportasi laut. Kementerian ESDM telah menerapkan bahan bakar ini pada kapal survei milik mereka sendiri untuk memastikan keandalannya di lautan.
"Kami sudah mengujinya langsung di kapal survei Geomarin milik ESDM dan dipakai berlayar. Hasilnya no problem, aman semuanya," ungkap Eniya.
Adapun sebelum berlaku 1 Juli 2026, B50, ungkap Eniya, telah dilakukan uji coba serentak di enam sektor strategis secara komprehensif. Sektor tersebut meliputi otomotif, alat pertanian, perkapalan, pertambangan, kereta api, hingga pembangkit listrik.
Seluruh proses ini dipantau secara ketat melalui mekanisme Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar seminggu sekali.
“Pemerintah sengaja memperketat tiga parameter utama untuk menjamin stabilitas bahan bakar dalam jangka panjang,” ungkap Eniya.
Sebagai informasi, berikut tiga parameter utama yang diuji lebih ketat dalam penerapan B50, dibandingkan B30 dan B40:
1. Waktu Oksidasi (Oxidation Time):
Diperpanjang menjadi 900 menit dari yang sebelumnya hanya berkisar di angka 800 menit, membuat bahan bakar menjadi lebih tahan lama dan tidak mudah kadaluarsa.
2. Kandungan Monogliserida:
Zat yang kerap memicu gumpalan ini berhasil ditekan hingga menjadi 0,47%, jauh lebih bersih dibandingkan masa B30 yang masih melonggarkan kadar hingga 0,55%.
3. Kandungan Air (Water Content):
Dijaga di bawah 300 ppm (part per million), pada level pabrik bisa ditekan hingga menyentuh 120 ppm.
Di sisi lain, mengingat sifat biodiesel yang higroskopis atau mudah menyerap air, Eniya mengingatkan pentingnya perlakuan khusus selama proses distribusi dan penyimpanan.
"Sifat biodiesel ini higroskopis, jadi saat pengiriman atau penyimpanan di kapal atau tangki tidak boleh bersentuhan langsung dengan udara bebas dan menggunakan sistem nitrogen blanket," pungkasnya.
Sebelumnya, terkait pengaruh B50 pada keandalan mesin, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan jika biodiesel B50 tak disimpan secara baik, kualitasnya bakal menurun dan sangat berdampak negatif bagi mesin.
Dia menjelaskan kondisi tersebut bisa menyebabkan terbentuknya sludge atau endapan yang menyumbat filter bahan bakar dan deposit di injektor akibat kontaminasi air serta kotoran.
Yannes mengungkapkan kondisi tersebut dapat membuat pembakaran menjadi tidak sempurna, tenaga mesin turun, konsumsi bahan bakar meningkat, dan dalam kondisi ekstrem bisa menyebabkan mesin mogok.
Tidak hanya itu, B50 dengan kualitas buruk memiliki sifat asam yang dapat teroksidasi, sehingga mempercepat korosi pada komponen logam.
Lalu, sifat pelarut FAME juga bisa memengaruhi seal karet atau elastomer di sistem bahan bakar yang menyebabkan swelling hingga cracking.
“Mesin modern [common rail] biasanya lebih sensitif dibandingkan dengan mesin lama, meski dampak jangka panjang masih terus dievaluasi melalui uji coba saat ini,” kata Yannes.
Di sisi lain, Kelompok Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (K3EPB) Universitas Indonesia menilai penggunaan biodiesel B50 pada kendaraan roda empat dan mesin alat berat berumur tua cukup riskan membuat performa turun.
Ketua K3EPB UI Ali Ahmudi Achyak menyatakan kandungan fatty acid methyl ester (FAME) sebesar 50% dalam B50 memiliki karakteristik pelarut atau solvent, sehingga karet atau seal pada mesin kendaraan tua diprediksi cepat mengalami kerusakan.
Selain itu, Ali menyatakan campuran FAME dalam B50 memiliki karakteristik higroskopis atau mudah menyerap air. Dia menilai penyimpanan B50 pada tangki yang tidak mumpuni bakal membuat kadar airnya cukup tinggi.
Kondisi tersebut, lanjut Ali, berpotensi terjadi jika B50 digunakan oleh mobil dan alat berat keluaraan tua. Dia menilai performa mesin bakal turun, sebab kendaraan tersebut memang tak dirancang untuk menggunakan bahan bakar nabati (BBN).
“Makanya kalau mobil-mobil tua, teknologi 70-an, 80-an, dia jangan 'minum' B50. Kenapa? Teknologinya memang tidak kompatibel. Pada masa itu, orang belum berpikir untuk memanfaatkan bioenergi,” kata Ali ketika dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Sementara itu, mobil dan alat berat keluaran baru diprediksi tidak bakal mengalami permasalahan ketika menggunakan B50.
Ali meyakini pabrikan otomotif sudah menyesuaikan spesifikasi suku cadang untuk menggunakan BBN.
“Kalau mobil-mobil baru, enggak ada masalah. Semua sudah disesuaikan, seal-nya sudah disesuaikan,” paparnya.
(smr/ros)




























