Logo Bloomberg Technoz

Kebutuhan Pembiayaan Utang Meningkat

Berdasarkan outlook APBN 2026, pemerintah memperkirakan defisit melebar menjadi Rp734,32 triliun sehingga kebutuhan pembiayaan anggaran ikut meningkat dengan nilai yang sama. Pembiayaan utang diproyeksikan naik menjadi Rp868,12 triliun, sedangkan pembiayaan nonutang turun tipis menjadi Rp133,8 triliun.

Awalil menilai komposisi pembiayaan tersebut menarik untuk dicermati. Di tengah kenaikan kebutuhan pembiayaan, pemerintah justru memperkirakan pembiayaan melalui Surat Berharga Negara (SBN) neto turun menjadi Rp736,57 triliun dari target APBN sebesar Rp799,53 triliun.

“Namun diimbangi peningkatan drastis dari pinjaman luar negeri (neto) yang mencapai Rp137,50 triliun dari rencana Rp39,21 triliun,” katanya

Ia juga mencatat pemerintah tidak merinci nilai pelunasan pokok utang yang akan dibayarkan sepanjang 2026. Berdasarkan berbagai informasi mengenai utang yang jatuh tempo serta realisasi pada 2025, Awalil memperkirakan pelunasan pokok utang mencapai sekitar Rp900 triliun.

Dengan demikian, kebutuhan penarikan utang baru secara bruto diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun.

Lebih lanjut, Awalil memperkirakan posisi utang pemerintah akan menembus Rp10.600 triliun pada akhir 2026 dari posisi Rp9.638 triliun per 31 Desember 2025. Proyeksi tersebut memperhitungkan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta pelemahan nilai tukar rupiah pada akhir 2026 dibandingkan akhir 2025 yang diperkirakan menambah posisi utang hampir Rp100 triliun.

“Dengan demikian, posisi utang akhir 2026 akan mencapai Rp10.600 triliun,” katanya.

(ell)

No more pages