Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Pemerintah Perlu Pembiayaan Setara Demi Atasi Defisit

Redaksi
13 July 2026 08:40

RAPBN 2026 untuk Kesehatan Rp244 Triliun, Perluas Asuransi-renovasi Faskes (Diolah berbagai sumber)
RAPBN 2026 untuk Kesehatan Rp244 Triliun, Perluas Asuransi-renovasi Faskes (Diolah berbagai sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pemerintah baru saja menyampaikan outlook APBN 2026. Dalam outlook tersebut, pemerintah menyebut bahwa pendapatan Negara 2026 diprakirakan sebesar Rp3.208,1 triliun, atau 101,73% dari target APBN. Sementara belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,95% dari rencana.

Artinya, defisit 2026 diprakirakan mencapai Rp734,3 triliun. Lebih lebar dari rencana APBN yang Rp689,1 triliun, dan rasio atas PDB pun menjadi 2,85% dari rencana 2,68%.

Awalil Rizky, Ekonom Bright Institute, mengatakan pelebaran defisit tersebut harus diimbangi dengan pembiayaan anggaran dalam jumlah yang setara. Pembiayaan anggaran merupakan penerimaan yang harus dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun berjalan maupun pada tahun anggaran berikutnya.


“Dengan demikian, pembiayaan bisa bersifat pengeluaran atau pun penerimaan. Penerimaan terbesar selama ini berasal dari utang, yang disebut sebagai pembiayaan utang. Biasa disajikan secara neto, setelah memperhitungkan pelunasan pokok utang yang bersifat pengeluaran,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (13/7/2026).

Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan defisit sekaligus pembiayaan anggaran sebesar Rp689,15 triliun. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan utang neto sebesar Rp832,21 triliun yang bersifat penerimaan serta pembiayaan non-utang sebesar Rp143,06 triliun yang bersifat pengeluaran. Pembiayaan nonutang antara lain digunakan untuk pembiayaan investasi dan pemberian pinjaman.