Tri menambahkan, hingga Mei 2026 telah terdapat 144 juta ton batu bara yang memiliki kontrak dengan PLN.
Dia menegaskan Ditjen Minerba terus berkoordinasi dengan PLN EPI dan badan usaha pertambangan untuk memastikan pasokan batubara ke PLTU tepat waktu, sesuai volume, dan memenuhi spesifikasi.
"Pemerintah terus memastikan agar kebutuhan batubara PLN pada semester II 2026 dapat dipenuhi sesuai jadwal dan spesifikasi pembangkit. Untuk itu, koordinasi dan percepatan penyelesaian kontrak perlu terus dilakukan," tegas Tri.
Dengan pemantauan dan percepatan kontrak tersebut, Tri berharap pasokan batu bara PLN dapat terjaga sehingga sistem kelistrikan nasional tetap andal.
"Ditjen Minerba secara berkala melakukan pemantauan terhadap kepatuhan pelaksanaan DMO, baik untuk sektor kelistrikan maupun nonkelistrikan. Untuk memenuhi kebutuhan PLN sebesar 154 juta metrik ton, kami telah memberikan penugasan kepada badan usaha pertambangan dengan total volume 212 juta metrik ton," ungkapnya.
Sebelumnya, Tri mengungkapkan Ditjen Minerba tengah mempersiapkan tambahan kuota produksi batu bara melalui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) demi menjaga keandalan pasokan listrik di dalam negeri.
Tri menegaskan penambahan alokasi ini dilakukan secara selektif, dan hanya untuk PT PLN (Persero).
"Untuk yang batu bara [tambahan] hanya diperuntukkan untuk yang PLN. Itu aja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026), petang.
Terkait dengan tenggat waktu pengajuan revisi RKAB yang dibatasi hingga 31 Juli 2026, Tri mempersilakan para pelaku usaha untuk mengajukan permohonan. Ditjen Minerba akan menyaring secara ketat setiap pengajuan yang masuk.
"Enggak, enggak [menunggu sampai 31 Juli]. Ya silakan masukin, silakan. Kalau misalnya ini [tidak sesuai] kan tinggal ditolak-tolakin doang. Jangan sampai ada oversupply. Itu aja," tambah Tri.
Adapun, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan perseroan mendapatkan tambahan batu bara kalori menengah dengan kadar di atas 4.500 kcal/kg sebanyak 16,8 juta ton hingga akhir 2026.
Tambahan pasokan ini terbagi menjadi 1,8 juta ton batu bara pada Juli. Kemudian, tambahan 3 juta ton masing-masing setiap bulan terhitung dari Agustus—Desember 2026.
"Adanya tambahan batu bara dengan spesifikasi 4.500 [kcal/kg] ke atas, yang Juli ini ada tambahan 1,8 juta ton on top dari yang eksis, kemudian Agustus sampai Desember ada tambahan 3 juta ton masing-masing tiap bulannya," ujar Darmawan agar agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7/2026).
Darmawan menambahkan tambahan batu bara dengan kadar kalori di atas 4.500 kcal/kg tersebut diperoleh melalui penugasan khusus dari Kementerian ESDM.
Dia pun mengakui sistem kelistrikan di Pulau Jawa sempat mengalami kendala yang memicu pemadaman bergilir. Namun, intervensi pasokan batu bara baru ini berhasil memulihkan stabilitas sistem secara signifikan.
"Ini tentu saja membuat sistem di Jawa yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir, sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal," tuturnya.
Menurut Darmawan, saat ini terjadi pergeseran tren di mana produksi batu bara kalori rendah terus meningkat, sementara ketersediaan batu bara kalori menengah dan tinggi justru mengalami penurunan.
"Sejalan dengan proses waktu, produksi batu bara kalori yang rendah itu meningkat, sedangkan produksi batu bara dengan kalori yang menengah dan tinggi semakin menurun," jelas Darmawan.
Melihat situasi tersebut, PLN bergerak cepat meminta dukungan regulasi dari pemerintah agar pasokan pembangkit listrik di Jawa tetap aman.
"Maka dalam hal ini Kementerian ESDM, kemudian dari PLN kami mengoreksi ini dengan adanya khusus pasokan batu bara dengan kalori menengah ke atas, on top dari existing supply," tambahnya.
(azr/del)




























