Seperti sejumlah data ekonomi yang pekan ini dirilis belum sepenuhnya mampu menopang penguatan rupiah lebih lanjut. Bahkan, beberapa indikator menunjukkan prospek pertumbuhan ekonomi Tanah Air berpotensi kehilangan momentum akibat lesunya daya beli dan keyakinan konsumen yang memudar.
Meski begitu, tak semua pelaku pasar memandang pelemahan aset Indonesia sebagai sinyal untuk menjauh. Sejumlah investor jangka panjang justru melihat koreksi tajam yang terjadi di pasar domestik sebagai peluang akumulasi.
Manajer investasi asal Afrika Selatan yang mengelola aset sekitar US$29 miliar, dilaporkan mulai membangun posisi di Indonesia dengan membeli saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Hal ini sedikit menunjukkan bahwa di tengah memburuknya sentimen jangka pendek, sebagian investor global masih menilai fundamental sejumlah perusahaan Indonesia masih layak dikoleksi.
Di sisi lain, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 1 tahun yang kemarin sempat bertengger di level 7,4% dan menunjukkan adanya inverted yield, pagi ini pada 08:00 WIB sudah kembali di level 7,06%.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menyebut pembelian SUN oleh investor perbankan, terutama bank-bank Himbara, akan menjadi penopang pasar obligasi, yang disebabkan oleh sisa injeksi Saldo Aanggara Lebih (SAL) dari Kementerian Keuangan senilai Rp120 triliun dari total Rp400 triliun.
Lionel dan tim Mega Capital Sekuritas memperkirakan yield 10Y SUN bergerak konsolidatif dalam rentang 7,25-7.35%. Di tengah kondisi ini, peluang penguatan rupiah secara bertahap masih tetap terbuka, meski tetap bergerak secara konsolidatif di kisaran Rp18.050-18.150/US$.
(dsp/aji)





























