Logo Bloomberg Technoz

Harga emas akhirnya naik usai turun tiga hari beruntun. Selama tiga hari tersebut, harga terhapus 2,27%.

Jadi, sepertinya koreksi harga emas sudah lumayan dalam sehingga membuat sang logam mulia kembali menarik di mata investor. Aksi ‘serok’ di bawah alias bargain hunting rasanya menjadi penyebab kenaikan harga.

Sebab pada dasarnya belum ada sentimen yang bisa mengangkat harga emas secara signifikan. Aset ini masih terbeban oleh konflik geopolitik di Timur Tengah, ancaman inflasi, dan pengetatan kebijakan moneter.

Terbaru, Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan ke Iran. Serangan ini bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Negeri Persia dalam mendisrupsi pelayaran di Selat Hormuz.

Namun Teheran tidak tinggal diam. Iran menyerang pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Tensi tinggi di Timur Tengah membuat harga minyak bisa melejit kapan saja. Artinya, dunia akan dibayangi oleh ancaman inflasi akibat lonjakan harga energi.

Alhasil, bank sentral di berbagai negara tidak punya banyak pilihan kecuali mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan. Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

(aji)

No more pages