Bagaimanapun, dia tidak menampik implementasi B50 merupakan pekerjaaan yang tidak mudah karena kenaikan bauran biodiesel dalam solar biasanya hanya sekitar 5%—10% dengan rentang kenaikan sekitar 3 tahun sebelum diujicobakan.
Akan tetapi, lanjutnya, Presiden Prabowo Subianto menginginkan agar B50 dapat diimplementasikan pada 2026 atau hanya berselang setahun dari mandatori B40.
“Karena ini bukan persoalan B50-nya, tetapi kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa untuk mengadilkan kedaulatan energi,” ujar Bahlil.
Selain penghematan devisa, sambungnya, implementasi B50 menaikkan permintaan terhadap minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari 15,2 juta ton menjadi 16—17 juta ton.
Hal itu disebutnya membantu menciptakan kepastian serapan pasar bagi petani kelapa sawit, menaikkan harga jual tandan buah segar (TBS) di tingkat petani, serta meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit domestik.
B50 juga diklaimnya menaikkan nilai tambah industri CPO dari Rp2092 triliun menjadi Rp23,49 triliun saat implementasi B40, meningkatkan menyerapan tenaga kerja dari 1,8 juta orang menjadi 2,1 juta tenaga kerja.
“Dan lebih dari itu, menurunkan emisi CO2 dari 39,66 juta ton CO2 menjadi sekitar 44,46 juta ton CO2. Menurunkan peredaran CO2 kita.”
Lebih lanjut, Bahlil menyebut uji coba B50 telah dilakukan selama enam bulan terhadap berbagai sektor; mulai dari perkeretaapian, mobil penumpang, bus, dan kapal.
“Hasil tesnya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik dari B40. Apa dasarnya? Kalau B40 filternya diganti pada [jarak tempuh] 10.000—20.000 km. Untuk B50 ada yang 40.000 km belum diganti filternya,” papar Bahlil.
(wdh)




























