Dua uji coba ICBM sebelumnya diketahui dilakukan dari lokasi peluncuran di darat. Sementara itu, peluncuran terbaru menunjukkan kemampuan komponen laut dalam triad nuklir China, yang melengkapi kekuatan rudal berbasis darat ketika Beijing juga terus memperkuat kemampuan penangkal berbasis udara.
Para analis kini memperkirakan PLA akan segera mendemonstrasikan komponen udara dari triad nuklir tersebut melalui peluncuran rudal berkepala nuklir dari pesawat pengebom strategis. Tahun lalu, China menampilkan rudal balistik berkepala nuklir yang diluncurkan dari udara bernama JL-1 dalam parade militer.
"Beberapa aspek performa rudal, terutama saat memasuki kembali atmosfer (reentry), tidak dapat direplikasi sepenuhnya pada uji coba dengan jarak yang lebih pendek," ujar Jeffrey Lewis, Distinguished Fellow di Foreign Policy Research Institute yang berbasis di Philadelphia. Menurutnya, tidak mengherankan jika China setidaknya melakukan satu kali uji coba jarak jauh terhadap sistem tersebut.
"Ini merupakan praktik pengujian yang normal dan seharusnya dilakukan setidaknya sekali, bahkan idealnya lebih sering, untuk memastikan rudal bekerja sesuai rancangan," katanya. "Saya menduga kita akan melihat lebih banyak uji coba dibandingkan sebelumnya, tetapi untuk saat ini satu kali pengujian per sistem masih tergolong sangat terbatas."
Meski demikian, uji coba pada Senin sudah memicu kekhawatiran di kawasan. Australia mengkritik langkah tersebut sebagai tindakan yang "mengganggu stabilitas kawasan", sementara Selandia Baru memperingatkan kemungkinan munculnya "pola berulang" dari China. Filipina mengecam uji coba itu sebagai "demonstrasi kekuatan militer yang sembrono dan menunjukkan minimnya kepedulian terhadap negara-negara yang lebih kecil". Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya untuk mempertahankan sekutu dan mitra-mitranya.
Negara-negara tetangga China juga terus berupaya meningkatkan kemampuan memantau kapal selam pembawa rudal balistik milik Beijing. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi secara terbuka pernah mengemukakan gagasan untuk menambah kapal selam bertenaga nuklir dalam armada negaranya. Australia juga bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris melalui perjanjian AUKUS untuk mengembangkan kapal selam semacam itu. Korea Selatan pun menyatakan ingin memiliki kapal selam bertenaga nuklir pada akhir dekade 2030-an, sementara India dikabarkan hampir menyelesaikan pembelian sejumlah kapal selam konvensional canggih dari Jerman.
Menanggapi berbagai kekhawatiran tersebut, Kementerian Pertahanan China menegaskan bahwa negaranya selalu mempertahankan kekuatan nuklir pada tingkat minimum yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional dan tidak terlibat dalam perlombaan senjata nuklir dengan negara mana pun. Menurut kementerian, modernisasi kekuatan nuklir dilakukan untuk melindungi keamanan strategis nasional sekaligus menjaga stabilitas strategis global.
Beijing juga telah lama mengeluhkan bahwa AS melakukan uji coba ICBM jauh lebih sering daripada China dan meminta negara-negara lain tidak menafsirkan berlebihan peluncuran pada Senin, yang disebutnya sebagai "praktik rutin" dan tidak ditujukan kepada negara tertentu. AS sendiri terakhir kali melakukan uji operasional rudal balistik antarbenua Minuteman III tanpa hulu ledak pada Mei lalu di California, dengan titik jatuh di Samudra Pasifik.
Hingga kini belum diketahui apakah China meluncurkan rudal JL-2 atau versi terbaru JL-3 dari kapal selamnya. JL-2 diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 7.200 kilometer, sehingga kapal selam pembawa rudal China harus beroperasi melewati rantai pulau pertama—wilayah yang lebih rentan dipantau AS dan sekutunya—untuk dapat menjangkau sebagian besar daratan utama Amerika Serikat.
Sementara itu, JL-3 diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 10.000 kilometer sehingga memungkinkan peluncuran dari perairan yang jauh lebih dekat dengan pantai China. Dengan demikian, kapal selam dapat tetap berada di wilayah yang lebih terlindungi sambil tetap mampu mengancam daratan Amerika Serikat.
Lokasi pasti jatuhnya rudal juga belum diketahui. Data Starboard Maritime Intelligence menunjukkan dua kapal pelacak satelit milik China berada di dekat Negara Federasi Mikronesia saat uji coba berlangsung. Kedua kapal tersebut beroperasi di luar zona ekonomi eksklusif negara mana pun.
"Kapal-kapal ini membawa antena satelit berukuran besar yang digunakan untuk melacak peluncuran rudal dan aktivitas luar angkasa lainnya. Kemungkinan besar mereka berada di Pasifik untuk mengumpulkan data dari uji coba rudal tersebut," kata analis domain maritim Starboard, Mark Douglas. "Kedua kapal berangkat dari China sekitar 25 Juni dan sudah berada di lokasi sebelum China mengirimkan pemberitahuan diplomatik mengenai uji coba tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut telah direncanakan jauh sebelumnya."
Apa pun jenis rudal yang digunakan, SLBM secara signifikan meningkatkan kemampuan serangan balasan nuklir (second-strike capability) PLA, yaitu kemampuan untuk tetap melancarkan serangan nuklir sebagai balasan apabila lebih dulu diserang. Kapal selam dianggap sangat cocok menjalankan fungsi tersebut karena kemampuannya tetap berada di bawah permukaan laut membuatnya lebih mungkin selamat dari serangan pendahuluan lawan.
"Uji coba dengan jarak sejauh ini merupakan perkembangan yang sangat signifikan dan menunjukkan bahwa China sedang bergerak menuju kemampuan penangkal nuklir berbasis laut yang jauh lebih andal dan memiliki jangkauan lebih panjang," kata Senior Fellow Bidang Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Asia Society Policy Institute, Lyle Morris, yang juga mantan pejabat Pentagon yang lama menangani isu terkait PLA.
"Peluncuran ini tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa China kini memiliki kemampuan penangkal nuklir berbasis laut yang operasional sekaligus memperlihatkan kemajuan dalam pembangunan triad nuklirnya," ujarnya.
Xi Jinping telah menetapkan 2027 sebagai target bagi PLA untuk menjadi angkatan bersenjata modern. Sejak pertengahan 2023, kampanye antikorupsi yang dipimpinnya telah menyingkirkan dua wakil ketua komisi militer, seorang mantan menteri pertahanan, serta sedikitnya belasan jenderal senior yang sebelumnya memimpin berbagai komando militer.
"Program SLBM kemungkinan relatif lebih terlindungi dari gelombang pembersihan tersebut" karena dinilai sangat penting, kata Yang Zi, Research Fellow di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, yang meneliti militer China.
Meski memperkirakan China akan lebih sering menguji ICBM di masa mendatang, Yang mengingatkan bahwa frekuensinya kemungkinan tidak akan terlalu tinggi karena justru dapat mengurangi efek daya gentar yang ingin dibangun.
"Uji coba seperti ini hanya akan mengejutkan dan memberi efek psikologis apabila dilakukan sesekali," katanya.
(bbn)































